Senin, 20 Oktober 2014
Senin, 28 November 2011
Di sebuah tempat
Di ruang waktu yang berbeda
Pada sebuah langkah dalam malam liar ini
Langkah kita dan malam kita
Langkah untuk menjadi pemenang
Dan malam untuk memaki
Kita berdua bersahutan
Mencerca hitam
Membentuk barisan dari angan-angan kita
Dan tertawa nyinyir pada nasib
Pada pekat kopi yang ikut menemani
Aku, kau dan putaran waktu
Ah…
Aku benci pada waktu yang tak bersahabat
Seolah tak adil atas kantuknya bintang
Kumaki gegap malam ini
Harusnya kucekcoki saja dengan kopi
Semua merambah kecut hatiku
Melihat pagi
[]
Sidoarjo, 2010
Tulus Hajianto
Sabtu, 30 Juli 2011

buat santai-santai aja. dengerin gk bakal nyesel :)
Den Basitho-Sahabat.mp3
Tony Q Rastafara ft Krisdayanti - Cintaku.mp3
bang Iwan Fals aja ngerreggae :D
Iwan Fals - Mabuk cinta.mp3
Rabu, 15 Juni 2011

Kalau saja dunia yang kita tempati ini sebuah cerita kartun, akankah kita masih mengenal kesedihan? Sungguh, sesuatu yang akan benar – benar indah dan membuat kita terlepas dari semua beban yang menggantung di kedalaman kita. Ah, andai saja…
Bagi kami, “urip songo” (hidup enak) itu, bersandar di kursi nyaman dengan menikmati secangkir kopi dan rokok, focus pada sebuah music santai sambil memandangi hijaunya alam atau birunya laut. Dan sepertinya tak seberapa jauh beda dengan hidup enak versi mereka yang bukan para candu nikotin dan ampas kopi seperti kami. Bolehlah seperti apa hidup enak versi setiap individu. Sedangkan bagi mereka yang masokis pun tetap saja sejalan dengan kenyamanan versi mereka sendiri, tak berbeda. Terlepas dari bagaimana tiap individu mengeksplor pikirannya tentang hidup enak dengan berbagai versi, satu yang jelas bahwa tiap individu selalu menginginkan sesuatu yang disebut dengan HAK. Hak yang membuat kita nyaman, damai, layak, yang selalu kita sebut Hak untuk hidup. Hak enak dan tak alot tentunya.
Lalu ingatkah kita tentang pelajaran Agama dan Pkn kita semasa sekolah dulu, bagaimana kita belajar menempatkan antara Hak dan Kewajiban? Atau kah kita yang sudah lupa dan memang sengaja melupakan perihal tersebut? Sehingga kita tak sadar bergerak melalui keegoisan kita atas nama Hak. Hak yang selama ini kita kenal, melekat erat pada ke egoisan diri kita, yang seringkali membuat kita menjadi makluk dengan seribu tuntutan atas hidup, atas masalah kita, sekali lagi atas nama Hak. Hak yang telah lama membuat kita hanya sekedar mencari pembenaran untuk memberikan rasa aman terhadap diri kita sendiri.
Ah, bukankah kita sarat menjadi sombong atas diri kita yang selalu membawa – bawa Hak menyikapi realita. Sadar atau tidak, bukankah sebenarnya sumber masalah dari kesedihan kita kebanyakan adalah diri kita sendiri, yaitu kita yang selalu melihat suatu masalah cenderung dalam sudut pandang yang sempit. Kita yang tak pernah berniat untuk melihat masalah itu lebih jernih, jauh, dan mendalam, melainkan hanya sekedarnya untuk melindungi kepentingan dan harapan diri sendiri. Dan lagi, kecenderungan macam itu telah menyempitkan cakrawala pandangan kita terhadap sesuatu yang sering kita lupa, atau mungkin sudah kita lupakan, yaitu Kewajiban.
Marilah kita berjalan, sekedar mengedarkan pandang terhadap trouble maker nya kehidupan, sadarkah kita untuk berpikir sejauh mana kita bisa mendahulukan kesekian kalinya antara Hak dan Kewajiban. Sadarkah kita bahwa teori selama ini selalu benar. Teori Agama dan Kewarganegaraan yang mendahulukan Kewajiban. Bukankah sudah jelas ajaran kedua ilmu tersebut yang menekankan KEWAJIBAN MENDAHULUI HAK.
Ataukah mungkin hanya karena kita adalah manusia yang naïf, yang tak bisa merasa dan peka lantaran perut kita perlu di isi sebagai tuntutan kita menyambut datangnya pagi, dengan mudahnya membuat kita melupakan penempatan yang tepat untuk Kewajiban, dan memastikan lebih dulu apakah Hak kita sudah sesuai atau belum. Ataukah juga karena kita yang terlalu berjiwa kritis , terlalu menjiwai diri sebagai seorang manusia sehingga membuat kita terjebak pada tindakan memihak dan tidak memihak (subyektifitas & obyektifitas) Hak dan Kewajiban, sehingga Hak selalu lebih berkuasa dari pada Kewajiban.
Tak cukup kah kita melihat berbagai variasi perlawanan kaum Negeri ini, baik dari masyarakat, ormas, mahasiswa, dan juga suporter sepak bola yang berteriak mengedepankan Hak diatas kewajiban bukan menyeimbangkan keduanya melalui Kewajiban terlebih dahulu. Menuntut terjadinya perubahan sesuai keinginan tanpa membeberkan tindakan nyata dari Kewajiban mereka. Tindakan nyata dari apa – apa yang sudah mereka lakukan untuk tuntutan mereka.
Lihatlah bagaimana ketiga elemen masyarakat kita ini yang terlalu congkak pada tuntutan Hak mereka. Tentang seperti apa kaum bawah meminta Hak untuk hidup layak tanpa keseimbangan dari usaha mereka mencapai hidup layak sebagai bentuk Kewajiban mereka, dan juga tentang kaum menengah yang meminta Hak kesejahteraan hidup yang semakin layak seperti kaum atas tanpa memperdulikan kaum bawah sebagai suatu Kewajiban mereka untuk menjembatani komunikasi antara atas dan bawah, serta sombongnya kaum atas yang meminta Hak atas kekuasaan yang seringkali membuat mereka terkotak dalam pola hidup hedonisme dan dengan mudahnya melupakan Kewajiban membela Hak – Hak kaum dibawahnya.
Dan lihatlah pula tuntutan dari ormas – ormas berbasis Agama yang menuntut Hak dari pemikiran egois mereka tanpa memperlihatkan langkah konkrit Kewajiban mereka sebagai kaum beragama. Ataulah para calon – calon penerus bangsa, dengan nama mahasiswa yang secara tak langsung bersikap plin – plan terhadap tuntutan mereka, bahkan kalau dalam tolak ukur sudahlah pasti tuntutan mereka hanya sebatas 40% dibandingkan niat lain mereka, yaitu Hak bebas berpendapat, Hak ingin diakui, Hak melakukan pengrusakan, Hak bersandiwara atas dasar rakyat. Lalu, semudah itukah para mahasiswa melupakan Kewajiban mereka sebagai orang berpendidikan. Dan juga lebihkah penting para suporter sepak bola menuntut Hak kemenangan terhadap apa yang mereka dukung tanpa mendahulukan Kewajibaan sebagai supporter yang bijak dengan tidak berbuat keonaran.
lelucon macam apa lagi yang akan kita mainkan diatas Hak?
Masih layak kah kita sedih atas masalah kita lantas merongrong Hak kita terlebih dahulu?
Sungguh, percayalah. Pancasila tak dibuat secara sembarangan…
TULUS H
Selasa, 14 Juni 2011

Bukankah pada sebuah goresan selalu tersemat sebuah cerita ?
Berawal dari iseng-iseng yang kulakukan, bersama ketiga teman yang kupikir sama-sama nekat atau malah tolol. Aku tak akan menyangka bahwa keisengan ku membawaku pada sebuah goresan yang akan kukenang. Goresan alam pertamaku.
Arjuno. Aku tak pernah tahu seperti apa keaslian sebuah gunung, selain hanya dari cerita kakakku yang pernah mendaki, yang kutahu gunung hanya serupa tumpeng raksasa. Tak lebih.
Saat itu, entah bagaimana aku menyepakati ajakan seorang kawan sekelas untuk melakukan perjalanan pendakian, aku tak tahu awalnya, yang pasti dan jelas sudah ada dua peserta perjalanan lainnya yang juga sekelas. Kami sepakat, maka libur tiga hari menjadi waktu yang tepat.
#
Bus berangkat menuju kota dingin Pandakan.
Terminal kota Pandakan. Tak jauh berbeda suasana dengan terminal purabaya selain luasnya. Entah, kupikir, apakah sama semua wajah terminal-terminal di Negara indah ini. Ah, sudahlah, aku tak mau mengganggu perjalanan ini dengan larut pada bentuk-bentuk abstrak terminal.
#
Pos perijinan. Setelah sedikit administrasi ini itu, kami melangkah. Langkah awal kami pada sebuah cerita baru dalam kegiatan alam. Ya, diantara kami ber-empat, tak ada satupun yang pernah melakukan pendakian gunung, hanya bermodal nekat dan cerita bagaimana rupa gunung Arjuno. Itu saja.
15 menit kabar yang kami dapat dari penjaga pos dari wisata ini untuk melintasi wisata kakek bodo menuju pos pertama pet bocor, dan dengan sedikit bertanya pada para pedagang asongan kami memantapkan langkah untuk menuju kesana.
Pet bocor. 15 menit bukanlah waktu yang cukup bagi para pendaki amatiran macam kami, kurasa hampir 1 jam kami perlukan dari perkiraan soal waktu awal menuju Pet bocor. Ngos-ngosan.
Maka, tak salah kenapa dinamakan Pet bocor, karena memang di situ terdapat saluran pipa besi yang bocor menyemprotkan air gunung dengan deras. Entah siapa yang menamai dengan sebutan pet bocor. Sedikit aneh.
Sebenarnya, bukan masalah karena kami bertiga terlalu sombong untuk berjalan sendiri, tapi lebih karena kami murni merasa tak nyaman dengan orang yang baru kami kenal. Kami bukanlah orang yang mudah percaya pada orang lain. Itu saja.
#
Sore menjelang malam.
Bunyi genderang langkah kami, deru nafas, dan tabuhan jantung yang ber-ngerock ria menjawab bagaimana rasanya mendaki gunung, bahkan ini lebih parah dari yang ku rasakan saat menuju ke pos pertama di Pet bocor tadi. Perjalanan ini terasa berat dan lama bagi kami para pemula.
Dingin mengedar. Lelah berlipat.
Sungguh, aku rindu sengat matahari. Sedikit menyesal, pikiranku berlabuh pada kasur empuk dirumah dan selimut hangat ketika kulihat kerlip lampu-lampu kota dari atas selama perjalanan. Ingin rasanya berbalik dan berlari pulang. Tapi apa aku bisa dan cukup berani. Semua menguap tak berarti. Lampu-lampu kota tersebut hanya melecehkan tindak penyesalanku (T.T), dan entah bagaimana dengan pemikiran kawan-kawanku yang lain. Aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk menyesal. Sibuk mengatasi rasa dingin dan lelah. Keegoisan yang sempurna
Waktu begitu rahasia. Entah sudah berapa lama kami berjalan. Bahkan kupikir kami akan menghabiskan malam ini bersama lelah. Kanan-kiri dan masih tetap menanjak. Hanya taburan bintang dan kerlip lampu-lampu kota yang kadang terlihat sebagai hadiah kecil untuk perjalanan malam ini.
Kabar baik datang. Seorang dari rombongan kawan baru bilang perjalanan akan segera berakhir, yang itu artinya kita akan segera sampai pada pos kedua, yaitu Kop-kopan.
#
Kami sudah pada posisi tidur senyaman mungkin. Dan kami sudah tak berkeringat lagi untuk meredam rasa dingin seperti setelah berjalan tadi. Maka, yang kurasa penderitanan dari lelah dan kantuk pun selesai ternyata masih belum. Penderitaan baru kami adalah rasa dingin yang ngilu. Teramat ngilu, terlebih karena diantara kami ber-empat tak ada satupun yang membawa jaket tebal yang cukup mengatasi hawa dingin. Sedangkan aku sendiri hanya membawa satu sweater tipis, dua kaos oblong dan, sebuah celana panjang kain, serta beberapa pakaian dalam yang sangat tidak membantu dalam hal menghangatkan tubuh. Dingin yang sempurna untuk membuat irama dari gigi-gigiku yang beradu.
Dingin. Semakin membuatku menyesal ikut dalam pendakian ini. Aku rindu pulang. Dan aku lapar.
#
Tak ada yang paling kuinginkan selain sengat matahari saat itu. Maka, ketika bola api yang berpijar itu telah mengintip dari perbukitan, segera ku keluar dan berdamai dengannya. Kalau sudah begini, tak ada yang lebih nikmat dari menyeruput secangkir kopi sebagai teman menikmati sunrise.
Aku terjatuh pada bukit hijau yang membawaku pada ranum dedaunan.
embun yang meleleh pada tiapnya.
Membias, mengetuk tirani takjubku.
Jadikan aku sang pemenang.
::
Hari ini dihabiskan dengan bersantai, membagi tugas mencari kayu bakar atau memasak logistic. Kalaupun udara tak sedingin malam tadi, tetap saja membuatku betah memakai pakaian rangkap tiga, maklumlah pemula. Sedang aku sendiri sibuk dengan bersantai ria diatas bukit seberang tenda kami hanya untuk sekedar menikmati alam. Hahaaha. Egois?. Memang.
#
Kerikil kecil.
Maka, akulah orang yang mau berepot-repot memperhatikan kerikil. Bukan aku yang tak punya kerjaan atau aku yang menjadi autis lantaran hawa dingin, tidak sama sekali. Aku memperhatikan hanya karena salah satu dari ribuan kerikil yang ada di gunung ini mencederaiku. (maaf) kalau sedikit lebay.
Dari sepuluh orang dari total rombongan kami yang ikut melakukan perjalanan ini hanya delapan orang. Sedangkan dua orang lainnya menunggu di tenda kami, mungkin tepatnya bermalas-malasan. Apa perduliku.
Kurasa perjalanan ini tak seberapa berat ketimbang seperti malam kemarin berjalan. Mungkin karena kami yang tak membawa beban selain berat tubuh kami masing-masing. Atau mungkin tubuh ini sudah bisa menyesuaikan dengan alam. Siapa yang tahu.
Pondokan. Tak banyak yang istimewa dari tempat ini. Sama saja seperti Kop-kopan. Hijau. Mungkin menurutku keistimewaannya selain berupa rumah-rumah pondok para penambang belerang, tempat ini dingin. Sangat dingin. Siang yang mengerikan di tempat ini. Membuatku ingin segera berbalik dan turun. Untungnya bukan hanya aku sendiri yang merasa kedinginan di siang bolong ini. Maka kami semua sepakat langsung turun kembali menuju Kop-kopan. Setelah menyempatkan diri berfoto-foto sejenak.
Sebuah kerikil berbentuk pipih dan sepanjang 3cm menggores kakiku. Segera setelah aku kembali tegap kuambil kerikil itu dan kumasukkan kantong. Perih dari bekas goresan itu kubiarkan. Menjadikan oleh-oleh untukku.
#
Menjelang malam. Dingin kembali mengedarkan kengerian. Membuat ku kembali menggigil dan sibuk meringkuk. Memikirkan kembali penyesalan-penyesalan dalam pendakian ini.
Malam berlanjut. Si jago merah kalah oleh waktu. Dingin kembali berkuasa. Dengan sendirinya kamipun sadar untuk berlindung dari terpaan angin malam. Kembali berdesak-desakan. Kembali membuat benteng pertahanan dan bertarung oleh rasa dingin. Menanti fajar.
Waktu kembali bersahabat. Ketika matahari tampak segar dikulit kami. Kami bersiap. Menghabiskan semua logistic. Dan mempacking semua barang kami. Menuruni bukit yang “mungkin” tak akan kurindukan. Kembali untuk sesibukan masing-masing. Dirumah. Sekolah. Dan cerita-cerita kami.
Aku suka naik gunung.
Selesai.
:: dalam perjalanan turun ini salah seorang teman sekelasku “ketelisut”, dan ada cerita lucu disini yang membuat kami sempat kebingungan. Hahaha. Biarkan ini menjadi rahasia kami. Aku tak akan bercerita ::
Tulus H
Selasa, 24 Mei 2011
Terkadang, sesekali kita perlu merasakan menjadi terasing. Mungkin dengan begitu kita bisa melatih otak kita sejalan dengan hati kita.“jalanan”, tahukah siapakah kekasih setianya?
Sebentuk luka yang tergores pada rajutan benang – benang kehidupan, mungkin kita biasa menamainya anjal ataupun gepeng. Anak-anak, muda, paruh baya, ataupun yang tua, baik yang kuat, yang lemah, yang rapuh, ataupun yang kita anggap gila sekalipun. Pria ataupun wanita. Tak banyak yang kita tahu tentang mereka, yang kita tahu mereka hanyalah serupa bunga – bunga usang penghias sudut kota atau jalanan. Dan bahkan lebih buruk lagi.
Bukankah egois dan munafiknya diri ini ketika kita tak lagi mampu mengendalikan pemahaman sejalan dengan hati kita? Kurasa semua dasar dari keegoisan ini hanya sebuah pemikiran – pemikiran lampau dari para pendahulu kita, para leluhur kita. Pemikiran yang menjadi budaya. Budaya yang membodohi. Pembodohan dari sebuah bentuk pemikiran.
Kalau untuk hal ini, mungkin aku perlu mengatakan menyingkirlah!!!
::
Sebatas pemikiranku. Mungkin kita sedang tak sadar, bahwa pendahulu kita telah membodohi kita dengan pemikiran tak logis, sekalipun terlihat logis. Seperti bagaimana kita yang dibodohi oleh pendahulu kita tentang pemahaman – pemahaman “Rahwana merupakan makluk jelek berhati jahat” atau “hanoman bertampang buruk dengan sifatnya yang liar” dan bukan seperti seharusnya yang mengatakan “kotor itu tak selamanya berakhir dengan buruk”, untuk yang satu ini, munkin baru-baru ini saja ada sebuah iklan detergen yang menyesuaikan cara pandang seperti itu.
Apa yang akan terpikir oleh mu ketika seorang lelaki gondrong sangar dengan pakaian acak – acakan sesuai kreatifitasnya, berada didekatmu dengan suara sumbangnya mengamen dalam bus yang kau tumpangi? Apa kau nyaman? Kurasa sama sekali tidak. Kau akan merasakan lain ketika ada seorang sales girl atau sales boy dengan pakaian rapi dan bau wewangian berada didekatmu menawarkan sebuah produk. Sama – sama urusan perut dengan menjual sesuatu, tapi berbeda tingkat kenyamanan. sekalipun kita tahu bahwa kebanyakan sales bisa saja menipu kita dengan kata-katanya. Tapi kita lebih memilih mengeluarkan uang untuk para sales dari pada membeli suara si pengamen, hanya karena penampilan yang membuat mata kita nyaman. Bukan begitu? Bukankah ini bentuk pemikiran kita selama ini?
“Don’t judge book by it’s cover” atau “beauty is only skin deep”
Sudah sering pula kita mendengar kata-kata seperti ini, yang entah dari mana kita mendapatkannya. Seharusnya kata-kata mutiara seperti itu tentunya mempunyai fungsi sebagai pemicu diri kita untuk berfikir secara dewasa. Sesaat mungkin kita tersadar oleh kata-kata tersebut dan berfikir membenarkan, bahwa memang tak sepenuhnya sesuatu hanya bisa dilihat dari cover luarnya saja, tapi entah seiring termakannya waktu tanpa sadar kita masih tetap saja melupakan kata-kata mutiara seperti itu ketika kita dihadapkan dalam pengimplemantasian yang sebenar-benarnya di kehidupan kita ketika bertatap muka dengan seseorang yang berpenampilan menakutkan atupun yang terlihat nyeleneh sekalipun.
Akui saja, dari hal remeh inilah setidaknya kita sering membunuh sebuah karakter seseorang tanpa kita sadari, dimana kita sering menganggap seseorang yang berpenampilan buruk pasti mempunyai sifat yang buruk juga. Padahal banyak dari mereka yang berdasi berambut klemispun bahkan lebih jahat dari penampilan mereka. Tak heran ketika mengapa banyak penjahat sekarang yang merubah penampilan mereka menjadi sopan dan rapi untuk memperdayai kita. Padahal berbuat gilapun menurut saya tak lepas dari sesuatu yang terkadang dapat merubah dunia, seperti apa yang dilakukan para penemu-penemu sains dalam kehidupan seperti Darwin, Aristoteles, atau pemikir ekstrim landasan para kaum komunis Karl marx.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan tentunya menciptakan indera bukan secara sembarangan.
Kuhisap, kuhembuskan. Indera perasaku tergelitik. Nikmat.Tulus Hajianto
Senin, 23 Mei 2011

dengan menjamah lentik kata
kutemukan kau dalam seputaran kelembutan
kau menari ,
melahirkan api
pijar yang melesatkanku pada getas mimpi
kasih,
kesendirian adalah sepi yang membawamu jauh
senyap yang lesap di dadaku, seorang lelaki
galau ini tentangmu
seperti pagi-pagi sebelumnya,
menyapamu lewat jejak mentari yang membisikkan kehangatan
: memelukmu
[]
: kusebut baris ini tanpa judul,
seperti sebelumnya atau nanti sesudahnya
karena menatapmu hanya akan menerbitkan mantra-mantra yang kumuntahkan ketika rindu sedang gegas
tentunya tak bernama
seperti hujan yang selalu menjawab musim tanpa harus menamai kesetiaannya dengan bahasa puitik
atau seperti itu pula kata yang di rajahkan para ratib di keningku ketika aku mengingatmu
sedang padamu
setia, sajak dan harap ini tak bernama
[]
Tulus Hajianto
Senin, 25 April 2011

Kematian.
Tak ada yang lebih pasti dari hal ini. Banyak yang bilang, kehilangan akan kental terasa saat seseorang mendapati dirinya kehilangan. Kehilangan bukanlah dikecap, tetapi dirasa. Begitulah, dan ada yang lebih tahu rahasia kematian kecuali Tuhan, setidaknya bagi yang masih meyakini-Nya.
Dan aku tak akan membahas kematian, karena kematian bagiku sebuah rahasia besar dari Tuhan yang ku yakini. Kalau boleh, aku akan menyebut kehidupanlah sebagai tokoh utama pada catatan pendek ini.
Sebelum kematian pastilah ada kehidupan, bukan begitu?
======================================================================
Hidup itu menyenangkan, semenyenangkan kita terjun ke kolam coklat manis seperti dalam iklan coco crunch.
Hidup itu menyedihkan, semenyedihkan menuntun sepeda motor bocor jauh dari tukang tambal ban.
Hidup itu beresiko, seberesiko tidur di kandang macan betina yang lapar melindungi anak-anaknya.
Hidup itu konyol, sekonyol tampang tokoh kartun patric dalam serial kartun spongs bob.
Hidup itu memalukan, sememalukan wajah anda……. Hheehehhe….
Dan hidup itu...
Banyak rasa, banyak warna, banyak cerita, dan banyak menghabiskan uang.
Terserahlah bagaimana anda memaknai hidup dari angan anda sendiri, aku tak akan prostes.
#
Perjalanan kehidupan bagiku tak hanya menjalani hidup dengan bernafas atau memainkan sebuah peran seperti lagu dari Nicky Astria, walaupun toh memang bernafas pada dasarnya adalah kebutuhan untuk hidup, dan lagu Nicky Astria memang enak didengar. tidak, bagiku lebih daripada itu, aku akan menyebut sebagai sebuah perjudian yang memuja dewi fortuna, perjudian yang memerlukan keberuntungan bagi para penjudi pemula. atau kadang, tampak seperti sebuah permainan monopoli yang mengandalkan keberuntungan juga.
Awal mulanya akupun berfikir seperti kebanyakan orang dan petuah dari guru-guru sekolahku dulu kalau saja setiap usaha pasti akan mempunyai efek dari usaha tersebut, tergantung apapun usaha tersebut. Nyatanya ketika aku menemukan sepotong ingatan pada masa sekolah dulu di sebuah warkop saat sedang bersantai menikmati kopi dan rokok, kini ada sedikit keraguan atas teori tersebut, seperti dimana aku merasa sangat bodoh ketika semasa SMP dulu aku pernah belajar untuk persiapan menjelang ulangan cawu pertama (system tiga cawu), entah kenapa untuk saat itu aku hanya ingin belajar, padahal aku sangat pemalas jika disuruh belajar, aku tak tahu pasti.
Hari H pertama ulanganpun tiba, saat itu sudah banyak aku menghapal teori-teori dari buku paket pelajaran untuk ulangan hari pertama. dengan yakin dan PD ku lumat habis soal-soal ulangan mata pelajaran pertama pada hari ini yang kurasa mudah karena usahaku belajar yang kurasa cukup. Begitupun saat ulangan mata pelajaran yang kedua, dan hari-hari selanjutnya. Kupikir semua akan berjalan sesuai apa yang kuharapkan. Nyatanya ketika hari pembagian ulangan, hampir semua kertas ulangan menyungingkan senyum merah menawan dari goresan tinta merah para guru-guruku.
Entah apa yang salah pada usahaku atau memang nasib ku yang jauh dari keberuntungan, aku tak tahu. Belum lagi ketika ku tahu teman yang hobi bermain PS dan enggan belajar sedikitpun, yang otaknya 11-12 dengan ku lebih baik nasibnya dari padaku dari hasil ulangan yang mencontek dan ngarap ngawur semua soal yang tak dia bisa, terbukti ketika banyak ku cocokan jawaban dari kertas ulanganku dan miliknya dengan buku paket pelajaran yang seharusnya jawabankulah yang benar. ah… semua tak terlihat logis. Asuuuuuuuuuu……………………!!!
Maka, pengalaman adalah guru yang terbaik. Sepakat.
Untuk ulangan cawu ke dua dan akhir cawu, sudah pastilah aku kapok untuk belajar (sampai sekarang---hheeheehee). Dan ternyata benar, hanya sedikit kepercayaan akan keberuntungan toh ulangan-ulanganku di kedua cawu itu setidaknya masih sedikit lebih baik dari pada cawu pertama. Walaupun masih pantas disebut buruk
Dan pada akhirnya, keberuntungan lah menurutku yang paling berperan penting mengantarkan kita pada kisah-kisah hidup yang menyenangkan, menyedihkan, beresiko, atau malah membuat kita malu dan konyol menyikapi keberadaan kita sebagai makluk hidup. Seperti pada kemudian hari ketika kita berbicara soal nasib yang mempermainkan hidup ini, ketika kita tak dapat meraih apa yang diharapkan, walaupun dalam usaha dan do’a kita patut mendapatkan banyak klikan like seperti di facebook.
Kalau belum beruntung mau apa lagi?
====================================================================
Percaya atau tidak, mungkin sesekali kita boleh sedikit bermain-main dengan hal-hal diluar logis atau gaib, tak ada salahnya mencoba, seperti seorang penjudi togel yang mencoba peruntungan nomor yang di dapat dari hasil ngerandongnya. Sesekali mungkin kita bisa mencoba walaupun tak harus dalam urusan perjudian murah macam judi togel, cari mbah dukun misalnya, lalu minta di bacakan mantera pada diri kita, atau membeli barang bertuah (pusaka) darinya. Agar keberuntungan tak jauh-jauh dari kita. Tak ada salahnya mencoba. Hahhahaha…..
:: Penting gk penting, Aku hanya ingin menulis ::
Tulus Hajianto
Minggu, 17 Januari 2010

Tepat setengah dua belas malam aku sampai di Medaeng.
Di warung, aku tak mendapati si atheis itu. Brengsek. Katanya dia sudah menunggu aku di warung. Jangan-jangan dia memang sedang keluar dengan kawan-kawannya, atau malah dengan kekasihnya. Tak masalah memang dia ada janji dengan kekasihnya kapanpun dia mau. Tapi kalau sudah ada janji denganku, dia tak bisa seenak jidatnya. Atau jangan-jangan dia tidur. Sudahlah, aku datangi saja dia langsung kerumahnya. Barangkali masih di rumah, atau sedang tidur.
Sampai dirumahnya ku sms dia agar segera keluar. Bah, ternyata dia tak kunjung keluar juga. ku miscal dia barangkali dia tak mendengarku. Selepas itu, dia membalas pesan dariku. Ia menyuruhku menunggu di warung. Aku melaju ke warung Medaeng.
*
Kupesan segelas kopi. Aku mengambil sebatang rokok sisa tadi sore dari saku jaketku dan menyalakannya. Ku hisap perlahan dan menikmati semua gejolak dan ledakan kenikmatan yang timbul dari asap rokokku. Kini didepan mataku berseliweran banyak hal yang membutuhkan dipikirkan dengan mendalam. Tentang Trunojoyo ‘pahlawan’ dari Madura, tentang arti sebuah pahlawan, tentang hidup, tentang tulisanku mendatang, tentang Nita yang hendak berangkat KKN di Sampang. Ah, aku kelelahan begitu melihat begitu banyaknya sesuatu yang memenuhi kepalaku.
Kemudian yang tak terlewatkan, tentang aku yang mulai merasakan diriku berada di tepian jurang antara batas waras dan gila. Tapi entahlah, apa sesuatu yang aku anggap waras justru sesuatu yang sebenarnya gila, atau yang aku anggap gila justru hal waras yang memang wajib dijalani seseorang yang belajar menjadi manusia. Sampai hendak menangis aku merasakan adanya distorsi terhadap jalan yang hendak aku lalui. Antara jalan gila dan jalan waras yang aku lalui mendadak menjadi sebuah kolaborasi dan membentuk tatanan yang apik hingga terkadang aku bingung dalam menentukan pilihan. Namun tak jarang pula aku temukan sebuah jalan kewarasan dimana aku sangat yakin akan kebaikan dari jalan yang aku renungkan. Tapi pada saat aku hendak menuju jalan yang aku pilih, keadaan, waktu, dan semuanya memaksaku memilih sebuah jalan yang telah aku tinggalkan, yakni kegilaan. Namun yang menjadi aneh kemudian adalah, jalan yang aku anggap sebagai jalan mereka yang waras, ternyata mereka anggap jalan yang salah atau jalan gila.
Inilah aku orang yang masih hendak belajar menjadi manusia, dengan banyak hal yang rumit membuat aku selalau bertanya. Apa aku sudah gila? Apa aku….
Belum sempat kiranya aku menyelesaikan dan menyuntuki pikiran-pikiranku, si Atheis itu telah datang dengan senyum terbaiknya – licik tentunya.
*
Sosok tubuh kurus dengan wajah tirus serta dengan kulit yang legam, dan yang tak ketinggalan senyum khas dengan mata menyipit seperti merencanakan kebusukan. Siapa lagi. Tak ada orang dengan cirri-ciri sebegitu menyeramkan seperti dia. sulit sekali tersamarkan, kecuali pada pertemuan sebelumnya dimana dia tersamar diantara gelap malam dan rumbun pepohonan. Benar-benar khas iblis.
Sudah dapat langsung aku tebak, apa yang akan dia pesan. Sesuatu yang berwarna coklat dan rasanya manis. Yah tepat, dia memesan kopi susu. Minuman yang pernah aku anggap sebagai perlambang kelamahan dan kebanci-bancian.
Katanya dia adalah seorang penggemar lethek kopi, tapi nyatanya dia selalu merusak letek dengan kontaminasi dari susu, yang bagiku kuanggap sebagai perlambang kewanita-waanitaan. Apalagi kewanita-wanitaan itu dilakukan oleh orang yang mempunyai penampilan sangar.
Si Atheis menanyakan kawanku Depy yang aku bawa sebelumnya karena kebetulan dia ada di tempatku. Dia juga menanyakan sikap Depy yang menurut Atheis terkesan ngetes pada setiap perkataannya. Dia merasa agak rikuh dengan seperti itu dan merasa tak lagi dapat los ketika berbicara. Dan menurutku begitulah si Depy. Dia mudah terpukau pada hal-hal baru yang ada di sekitarnya.
Sudah beberapa jumat tidak tidak kita lewati dengan menaklukan malam karena berbagai hal. Seperti yang jumat sebelumnya dimana dia kelelehan karena acara tahun baru, kemudian dia yang kecapek’an dan ketiduran. Ah alasan lelaki legam itu saja.
Dan hari ini aku dan dia membicarakan perihal Penjahat kasus suap jaksa si Artalita. Bagiku bukan Artalita yang jadi sumber permasalahan sebenarnya terhadap masalah di pondok bambu, namun orang-orang yang menjadi petugas penjara yang patut dipersalahkan. Karena tidak akan mungkin ada penyuap kalau yang disuap tidak mau. Dan yang tak luput dari kecamanku adalah sikap para sipir yang memalukan, termasuk pemerasan seperti yang tertulis di jawapos beberapa hari yang lalu. Hal ini juga dibenarkan dan diamini dalam buku kisah para ratib karangan Arswendo seputar dunia penjara.
Si Atheis nampak keberatan dan seperti ingin megutarakan pendapatnya. Dia beranggapan hal itu wajar dan sudah berlangsung sejak sekian lama, oleh sebab itu hendaknya tak terlalu dipermasalahkan. Tapi tidak bagiku. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang paling dengan anti dengan system dan nilai. Terlebih lagi sebuah system yang bobrok, yang dengan bangganya dikatakan telah lebih baik dari sebelumnya ujar SBY. Ah orang itu terlalu mengada-ada. Nampaknya ada yang terganggu diantara system kerja otaknya karena kasus century tak kunjung mereda. Dan kembali kukatakan kepada atheis itu lagi, bila pemindahan Artalita ke tempat yang pantas hanya sebuah kesementaraan. Dan kembali kasus seperti ini akan terulang kembali dikemudian hari ketika pengawasan tak lagi ketat seperti dulu.
Boleh dibilang kasus yang menyangkut system di Indonesia, terutama kenegaraan itu hampir bisa disamakan dengan pelacuran. Setelah sebuah tempat mangkal pelacur jalanan digaruk oleh aparat maka satu atau dua hari tempat itu menjadi sepi dan para pelacur itu akan libur. Namun setelah dirasa aman, mereka akan kerja kembali. Begitu juga system yang ada di negeri ini, dan bahkan lebih parah dari pelacuran.
Semua karena tidak ada yang punya itukad baik dalam merubah negara ini menjadi lebih baik. Semua yang maju dengan janji menjadikan keadaan lebiih baik dari sebelumnya hanya omong kosong. Ya RW, ya lurah, ya camat, ya bupati, gubernur, presidennya. Semuanya bosok.
*
Menjelang malam aku bercanda dengan si atheis tentang permasalahan hujatan para Raper kepada kangen band. Kita juga memperbincangkan tentang reagae, kangen band, dangdut, band papan atas. Si atheis mempermasalahkan masalahkan mengapa hujatan hanya disematkan kepada kangen band dan band-band melayu saja dan bukan Dewa, Padi, Boomerang, Slank, dll. Apa karena para Rapper kehilangan nyali karena takut berurusan dengan para penggemarnya.
Perbincangan akan hal ini bermula ketika aku mengingat ketika si tulit masih memuja RS dia sering memamerkan lagu kangen bandnya kepadaku. Dan aku menertawainya karena menurutku sangat lucu. Dengan muka khas iblis, tapi kegemaran lagu kangen band. Dia berkilah bila hanya lagu-lagu tertentu yang dia suka dan yang membuatnya teringat RS. Dia juga menekankan kalau dia sendiri juga tidak terlalu fanatic dengan kangen band. Hanya saja dia mempermasalahkan mengapa kesanggupan para Rapper itu hanya berani menghujat band amatir. Kemudian kalaupun ada yang berani menghujat Ratu, itupun harus berlindung dibawah ketiak Dani sebagai orang yang punya nama besar di belantara music.
Pada umumnya dalam perbincangan ini aku mendukung mengapa para Rapper itu mengejek kangen band. Namun segera saja si tulit menyela pembicaraanku.
“Apa karena muka personil kangen band yang hanya pantas menjadi penjual cendol”
Aku hanya bisa tertawa. Namun tak aku ungkapkan itu, karena salah satu alasan dari hujatan kepada kangen band itu berawal dari performen personilnya.
Begitulah pada akhirnya. Tak ada penyelesaian dan hanya melahirkan tawa yang meledak di pagi yang dingin.
Ketika menjelang subuh. Aku berpamitan untuk pulang karena mataku telah mengantuk.
Citra Dara Vresti
Sabtu, 26 Desember 2009

Menuju akhir tahun. Kita masih tetap ngopi, tetap merokok, dan senantiasa berfikir tentang banyak hal. Hari ini adalah hari natal. Dan aku ucapkan selamat bagi yang merayakan.
Hidup memang penuh dengan profokasi. Baik, buruk, hitam, putih. Semuanya menyatu dalam sebuah pergulatan yang menjelma nasihat. Dan sebagai sebuah nasihat maka semua hasutan itu terasa campur aduk. Kadang baik dan kadang buruk. Ada juga baik yang didalamnya terdapat misi jahat, ada yang jahat namun dengan latar yang sedikit agak baik.
Seperti ketika orang vespa membujukku untuk menjual si hitam (baca: Alfa 900 jt) dan membeli sebuah skuter, lantas menggarapnya menjadi skuter keren dan ikut kedalam anggota touring. Menjanjikan, namun juga menggelikan, karena aku pikir 900 juta bukan milikku, melainkan milik Dadyku. Kemudian yang tak kalah menjijikkan, ketika si atheis membujukku untuk melakukan kebodohan untuk yang kedua kalinya, maka permintaannya aku jawab dengan tegas: tidak. Hah, dia pikir dia siapa berani membodohi aku dua kali. Dan yang menjadi catatan menarik hari ini adalah ketika Hp si atheis itu hilang, dimana didalamnya memuat rekaman penting tentang masa depanku yang kalau tersebar bisa berbahaya. Untunglah semua itu hilang dan batal untuk tersebar. Ini memang hariku. Senyum kemenangan.
*
Aku berangkat sekitar pukul sepuluh malam. Sejuk lembut angin belai rambutku perlahan, napas malam dihembuskan tepat dimukaku. Napasnya perlahan-lahan dan terputus-putus. Bau kelelahan dapat tercium dari hembusannya. Maka sudahlah tidur saja. Biar aku yang menahlukan malam dengan semangatku yang terbakar. Aku melaju.
*
Sesampai di warkop, aku tak melihat si atheis itu, dan aku langsung memutar otak dengan ke rumahnya. Ku toleh ke arah jembatan dekat sebuah mesjid, karena barangkali ia nongkrong disana dengan kawan-kawannya. Ternyata tidak.
“Ssst sst”
Seseorang nampak seperti menggodaku. Apa dipikirnya aku adalah cowok murahan. Kulirik spion. Apa aku cantik sehingga mereka menggodaku dan tak tahu bila aku adalah seorang lalaki yang ganteng. Karena memang hari itu aku mengurai rambutku.
Ponselku bordering. Ternyata dari si Atheis busuk itu.
“Aku nang buk pinggir kali pak”
“Oh yo…yo…yo….sek. Tak mrono”
Oh semprul pikirku. Jadi yang ‘ssst ssst’ tadi si Atheis laknat itu. Seperti yang aku duga sebelumnya bila kulitnya memang sudah legam dari sejak bayi. Jadi bisa dibilang kulit yang seperti terbakar adalah kutukan yang sulit hilang. Sehingga ia tak pantas menyalahkan mentari.
Si Tulus seperti tersamar diantara malam. Pekat yang ada menutupi dan menyamarkan mukanya. Namun dapat segera aku kanali sebuah senyum licik khas penghuni sebuah rumah dibelakang rutan medaeng. Dia adalah Si Tulit.
Kali ini dia bersama seorang anak yang berkulit legam juga dengan kepala plontos khas pukon yang membuatku berhasrat menjitak kepala orang itu.
Dari kesan pertama sejak aku turun dari sepedaku, lantas dapat aku terka dia adalah anjing negara. Kemudian saat aku mengulurkan tangan mengenalkan diriku padanya, dia hanya menjabat uluran tanganku tanpa menyebutkan namanya. Aku pikir dia tak butuh kenal denganku. Bah, dasar anjing pongah. Makan apa kau kalau tidak dari pajak yang aku stor ke negara. Baru jadi alat saja sudah sok. Dan segera saja aku memafhumi bila ini masih di Indonesia. Jadi wajar saja jika aku temui banyak orang macam dia.
Si Tulit menceritakan bila ponselnya hilang di secret PA nya. Katanya sekretnya dibobol maling. Dia menyesalkan rekaman biadab yang ada di ponselnya. Hahahahaha hari ini begitu indah. Dia tak punya senjata lagi atas diriku.
Tak seberapa lama karena anjing it uterus-terusan di cuekin, maka ia mengajak untuk kembali pulang. Tulit mengantarnya entah sampai mana. Kemudian kembali dengan membawa laptop, karena rencananya malam ini kita akan menggarap dan mendesain blog ini sama-sama.
Di warkop dengan pemandangan seperti biasanya. Sebuah tontonan video terbaru, dengan orang-orang yang sedang serius menyaksikan. Bisa dibayangkan, kalau misalkan itu film kolosal yang menampilkan perang tentara Romawi atau perang salibnya Om Salahudin, itu masih wajar. Tapi kalo yang dilihat adalah film kartun. Sudahlah memang seperti inilah orang Medaeng, yang memang lain dengan Sambisari yang diramalkan setahun lagi akan menjadi metropolitan.
Kupesan secangkir kopi kepada Mas Wawan serta minuman wajib yang agak kebanci-bancian – kopi susu. Kalau bicara masalah nilai hidup dari sebuah kopi, maka akan langsung mengigatkanku pada jumat malam yang dulu. Kalau tak salah tempatnya di pinggiran rel kereta didekat Royal Plaza.
Tak berapa lama setelah penjual bebek goreng itu tutup, aku dan atheis itu pindah ketempat yang sepi itu. Dan ternyata, disana sesuai dengan harapan kami. Ada colokan sehingga kita dapat edit blog sampai pagi tiba, serta sambil berbicang tentang banyak hal.
Pertama kalinya aku posting sebuah catatan jumat malam yang telah aku persiapkan dan kusimpan di flasdis Nita. Kemudian setelah posting seesai, kami memberikan buku tamu pada blog kami lewat layanan shoutmix. Selain itu kita juga menambahkan artikel yang benar-benar tak penting sekali untuk ditulis ataupun dibuat.
Sebuah kode etik yang kita sepakati guna mencegah penjelek-jelekan dan profokasi atas pembaca melalui foto. Kalau ingin tau kode etik gila seperti apa yang kita buat. Klik aja disini.
Kemudian yang tak kalah tak penting adalah kami posting foto-foto kami – si Atheis di sisi kanan, sedangkan aku di sisi kiri. Sama sekali tak penting, namun nyatanya kami melakukannya. Apapun kata mereka, kita tak perduli.
*
Dan pada sore ini ketika aku mencari sesuatu di warnet, aku menyempatkan diriku untuk melihat blog kami. Ada sesuatu yang mungkin akan mengejutkan si atheis liar itu. Bisa dibayangkan si SA komen. Komennya seperti ini.
Aku bermaksud memberinya kejutan, tapi aku urungkan, karena biarkan dia melihat sendiri. Dan Kejutannya akan lebih luar biasa ketimbang aku beritahu dia.
Citra Dara Vresti T
25-26 Des 09
