Senin, 28 November 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

Di sebuah tempat


Di ruang waktu yang berbeda

Pada sebuah langkah dalam malam liar ini

Langkah kita dan malam kita

Langkah untuk menjadi pemenang

Dan malam untuk memaki

Kita berdua bersahutan

Mencerca hitam

Membentuk barisan dari angan-angan kita

Dan tertawa nyinyir pada nasib

Pada pekat kopi yang ikut menemani

Aku, kau dan putaran waktu

Ah…

Aku benci pada waktu yang tak bersahabat

Seolah tak adil atas kantuknya bintang

Kumaki gegap malam ini

Harusnya kucekcoki saja dengan kopi

Semua merambah kecut hatiku

Melihat pagi

[]


Sidoarjo, 2010


Tulus Hajianto

Sabtu, 30 Juli 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :


buat santai-santai aja. dengerin gk bakal nyesel :)

Den Basitho-Sahabat.mp3

Tony Q Rastafara ft Krisdayanti - Cintaku.mp3

bang Iwan Fals aja ngerreggae :D

Iwan Fals - Mabuk cinta.mp3

Rabu, 15 Juni 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

Kalau saja dunia yang kita tempati ini sebuah cerita kartun, akankah kita masih mengenal kesedihan? Sungguh, sesuatu yang akan benar – benar indah dan membuat kita terlepas dari semua beban yang menggantung di kedalaman kita. Ah, andai saja…

Bagi kami, “urip songo” (hidup enak) itu, bersandar di kursi nyaman dengan menikmati secangkir kopi dan rokok, focus pada sebuah music santai sambil memandangi hijaunya alam atau birunya laut. Dan sepertinya tak seberapa jauh beda dengan hidup enak versi mereka yang bukan para candu nikotin dan ampas kopi seperti kami. Bolehlah seperti apa hidup enak versi setiap individu. Sedangkan bagi mereka yang masokis pun tetap saja sejalan dengan kenyamanan versi mereka sendiri, tak berbeda. Terlepas dari bagaimana tiap individu mengeksplor pikirannya tentang hidup enak dengan berbagai versi, satu yang jelas bahwa tiap individu selalu menginginkan sesuatu yang disebut dengan HAK. Hak yang membuat kita nyaman, damai, layak, yang selalu kita sebut Hak untuk hidup. Hak enak dan tak alot tentunya.

Lalu ingatkah kita tentang pelajaran Agama dan Pkn kita semasa sekolah dulu, bagaimana kita belajar menempatkan antara Hak dan Kewajiban? Atau kah kita yang sudah lupa dan memang sengaja melupakan perihal tersebut? Sehingga kita tak sadar bergerak melalui keegoisan kita atas nama Hak. Hak yang selama ini kita kenal, melekat erat pada ke egoisan diri kita, yang seringkali membuat kita menjadi makluk dengan seribu tuntutan atas hidup, atas masalah kita, sekali lagi atas nama Hak. Hak yang telah lama membuat kita hanya sekedar mencari pembenaran untuk memberikan rasa aman terhadap diri kita sendiri.

Ah, bukankah kita sarat menjadi sombong atas diri kita yang selalu membawa – bawa Hak menyikapi realita. Sadar atau tidak, bukankah sebenarnya sumber masalah dari kesedihan kita kebanyakan adalah diri kita sendiri, yaitu kita yang selalu melihat suatu masalah cenderung dalam sudut pandang yang sempit. Kita yang tak pernah berniat untuk melihat masalah itu lebih jernih, jauh, dan mendalam, melainkan hanya sekedarnya untuk melindungi kepentingan dan harapan diri sendiri. Dan lagi, kecenderungan macam itu telah menyempitkan cakrawala pandangan kita terhadap sesuatu yang sering kita lupa, atau mungkin sudah kita lupakan, yaitu Kewajiban.

Marilah kita berjalan, sekedar mengedarkan pandang terhadap trouble maker nya kehidupan, sadarkah kita untuk berpikir sejauh mana kita bisa mendahulukan kesekian kalinya antara Hak dan Kewajiban. Sadarkah kita bahwa teori selama ini selalu benar. Teori Agama dan Kewarganegaraan yang mendahulukan Kewajiban. Bukankah sudah jelas ajaran kedua ilmu tersebut yang menekankan KEWAJIBAN MENDAHULUI HAK.

Ataukah mungkin hanya karena kita adalah manusia yang naïf, yang tak bisa merasa dan peka lantaran perut kita perlu di isi sebagai tuntutan kita menyambut datangnya pagi, dengan mudahnya membuat kita melupakan penempatan yang tepat untuk Kewajiban, dan memastikan lebih dulu apakah Hak kita sudah sesuai atau belum. Ataukah juga karena kita yang terlalu berjiwa kritis , terlalu menjiwai diri sebagai seorang manusia sehingga membuat kita terjebak pada tindakan memihak dan tidak memihak (subyektifitas & obyektifitas) Hak dan Kewajiban, sehingga Hak selalu lebih berkuasa dari pada Kewajiban.

Tak cukup kah kita melihat berbagai variasi perlawanan kaum Negeri ini, baik dari masyarakat, ormas, mahasiswa, dan juga suporter sepak bola yang berteriak mengedepankan Hak diatas kewajiban bukan menyeimbangkan keduanya melalui Kewajiban terlebih dahulu. Menuntut terjadinya perubahan sesuai keinginan tanpa membeberkan tindakan nyata dari Kewajiban mereka. Tindakan nyata dari apa – apa yang sudah mereka lakukan untuk tuntutan mereka.

Lihatlah bagaimana ketiga elemen masyarakat kita ini yang terlalu congkak pada tuntutan Hak mereka. Tentang seperti apa kaum bawah meminta Hak untuk hidup layak tanpa keseimbangan dari usaha mereka mencapai hidup layak sebagai bentuk Kewajiban mereka, dan juga tentang kaum menengah yang meminta Hak kesejahteraan hidup yang semakin layak seperti kaum atas tanpa memperdulikan kaum bawah sebagai suatu Kewajiban mereka untuk menjembatani komunikasi antara atas dan bawah, serta sombongnya kaum atas yang meminta Hak atas kekuasaan yang seringkali membuat mereka terkotak dalam pola hidup hedonisme dan dengan mudahnya melupakan Kewajiban membela Hak – Hak kaum dibawahnya.

Dan lihatlah pula tuntutan dari ormas – ormas berbasis Agama yang menuntut Hak dari pemikiran egois mereka tanpa memperlihatkan langkah konkrit Kewajiban mereka sebagai kaum beragama. Ataulah para calon – calon penerus bangsa, dengan nama mahasiswa yang secara tak langsung bersikap plin – plan terhadap tuntutan mereka, bahkan kalau dalam tolak ukur sudahlah pasti tuntutan mereka hanya sebatas 40% dibandingkan niat lain mereka, yaitu Hak bebas berpendapat, Hak ingin diakui, Hak melakukan pengrusakan, Hak bersandiwara atas dasar rakyat. Lalu, semudah itukah para mahasiswa melupakan Kewajiban mereka sebagai orang berpendidikan. Dan juga lebihkah penting para suporter sepak bola menuntut Hak kemenangan terhadap apa yang mereka dukung tanpa mendahulukan Kewajibaan sebagai supporter yang bijak dengan tidak berbuat keonaran.

lelucon macam apa lagi yang akan kita mainkan diatas Hak?

Masih layak kah kita sedih atas masalah kita lantas merongrong Hak kita terlebih dahulu?

Sungguh, percayalah. Pancasila tak dibuat secara sembarangan…


TULUS H

Selasa, 14 Juni 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

Bukankah pada sebuah goresan selalu tersemat sebuah cerita ?

Seperti sebuah goresan pada kaki ini, tentu saja mempunyai kesan yang dapat mengembalikanku pada awal mulanya sebuah pilihan untuk masuk ke dalam dunia baru. Dunia kepencinta alaman.

Berawal dari iseng-iseng yang kulakukan, bersama ketiga teman yang kupikir sama-sama nekat atau malah tolol. Aku tak akan menyangka bahwa keisengan ku membawaku pada sebuah goresan yang akan kukenang. Goresan alam pertamaku.

Arjuno. Aku tak pernah tahu seperti apa keaslian sebuah gunung, selain hanya dari cerita kakakku yang pernah mendaki, yang kutahu gunung hanya serupa tumpeng raksasa. Tak lebih.

Saat itu, entah bagaimana aku menyepakati ajakan seorang kawan sekelas untuk melakukan perjalanan pendakian, aku tak tahu awalnya, yang pasti dan jelas sudah ada dua peserta perjalanan lainnya yang juga sekelas. Kami sepakat, maka libur tiga hari menjadi waktu yang tepat.

Semua siap. Kami ber-empat pun berangkat. Perjalanan di mulai dari rumahku , karena rumahkulah yang paling dekat dengan terminal yang menjadi tujuan pertama kami.

#

Purabaya. Suara bising bus, calo, dan nyanyian pengamen, bau pesing, keringat, dan sampah. Inilah terminal kebanggaan kota Surabaya, dan aku tak akan banyak cerita tentang hal ini.
Bus berangkat menuju kota dingin Pandakan.

Terminal kota Pandakan. Tak jauh berbeda suasana dengan terminal purabaya selain luasnya. Entah, kupikir, apakah sama semua wajah terminal-terminal di Negara indah ini. Ah, sudahlah, aku tak mau mengganggu perjalanan ini dengan larut pada bentuk-bentuk abstrak terminal.

Segera, kami sepakat mencari jawaban kemana langkah kaki kami selanjutnya, dengan sedikit bertanya, kini kami sudah berada angkutan antara desa, serupa colt atau entahlah apa namanya. Tak lama kami berada dalam kendaraan ini, kami sudah berada di kaki gunung Arjuno.

#

Pos perijinan. Setelah sedikit administrasi ini itu, kami melangkah. Langkah awal kami pada sebuah cerita baru dalam kegiatan alam. Ya, diantara kami ber-empat, tak ada satupun yang pernah melakukan pendakian gunung, hanya bermodal nekat dan cerita bagaimana rupa gunung Arjuno. Itu saja.

Perjalanan mendaki kami dimulai dari wahana wisata “kakek bodo”, wahana yang menonjolkan selain keindahan air terjun, juga menonjolkan kesepiannya untuk para pecandu nikmat (sepasang kekasih). Bukan karena memang kami yang sengaja memulai perjalanan dari sini, tapi lebih karena kami yang kuper letak asli sebuah pos perijinan umum para pendaki, atau kini yang biasa ku sebut dengan pak Tompul.

15 menit kabar yang kami dapat dari penjaga pos dari wisata ini untuk melintasi wisata kakek bodo menuju pos pertama pet bocor, dan dengan sedikit bertanya pada para pedagang asongan kami memantapkan langkah untuk menuju kesana.

#

Pet bocor. 15 menit bukanlah waktu yang cukup bagi para pendaki amatiran macam kami, kurasa hampir 1 jam kami perlukan dari perkiraan soal waktu awal menuju Pet bocor. Ngos-ngosan.

Maka, tak salah kenapa dinamakan Pet bocor, karena memang di situ terdapat saluran pipa besi yang bocor menyemprotkan air gunung dengan deras. Entah siapa yang menamai dengan sebutan pet bocor. Sedikit aneh.

Di pet bocor ini kami tak sendiri, kami bertemu dengan enam orang rombongan pendaki sebaya lain. Saling menyapa. Rombongan yang kami tahu berasal dari kota yang sama, atau malah masih tetangga desa ini mengajak kami melakukan perjalanan pendakian bersama. Karena kami yang tak kenal medan jalan, tanpa pikir panjang seorang kawan penggagas ekspedisi kami dan kami anggap sebagai pentolan rombongan langsung mengiyakan., tanpa perduli komentar kami bertiga yang “emoh-emohan” berjalan bersama mereka. Apa daya, pemimpin sudah berkata, maka kami bertiga yang sedikit enggan pun mau tak mau menurut, hanya menyisakan sedikit gerutuan-gerutuan kecil dibelakang.

Sebenarnya, bukan masalah karena kami bertiga terlalu sombong untuk berjalan sendiri, tapi lebih karena kami murni merasa tak nyaman dengan orang yang baru kami kenal. Kami bukanlah orang yang mudah percaya pada orang lain. Itu saja.

(maaf). Dan kalau boleh bukan maksud, hanya sedikit ungkapan hatiku waktu itu. Sungguh, kebanyakan wajah-wajah mereka (maaf) tak bersahabat. @#$$#$%^&(*^%

#

Perjalanan berlanjut. Tujuan selanjutnya adalah pos kedua “Kop-kopan”. Sedikit banyak ngobrol dengan teman-teman baru kami, membuat kami tahu bahwa kebanyakan dari rombongan mereka juga masih newbie dalam hal pendakian, kecuali dua orang yang katanya sudah pernah muncak di G.Arjuno. kabar baik, dan sedikit melegakan.

Sore menjelang malam.

Bunyi genderang langkah kami, deru nafas, dan tabuhan jantung yang ber-ngerock ria menjawab bagaimana rasanya mendaki gunung, bahkan ini lebih parah dari yang ku rasakan saat menuju ke pos pertama di Pet bocor tadi. Perjalanan ini terasa berat dan lama bagi kami para pemula.

Malam menyaru. Lelah.

Dingin mengedar. Lelah berlipat.

Sungguh, aku rindu sengat matahari. Sedikit menyesal, pikiranku berlabuh pada kasur empuk dirumah dan selimut hangat ketika kulihat kerlip lampu-lampu kota dari atas selama perjalanan. Ingin rasanya berbalik dan berlari pulang. Tapi apa aku bisa dan cukup berani. Semua menguap tak berarti. Lampu-lampu kota tersebut hanya melecehkan tindak penyesalanku (T.T), dan entah bagaimana dengan pemikiran kawan-kawanku yang lain. Aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk menyesal. Sibuk mengatasi rasa dingin dan lelah. Keegoisan yang sempurna

Waktu begitu rahasia. Entah sudah berapa lama kami berjalan. Bahkan kupikir kami akan menghabiskan malam ini bersama lelah. Kanan-kiri dan masih tetap menanjak. Hanya taburan bintang dan kerlip lampu-lampu kota yang kadang terlihat sebagai hadiah kecil untuk perjalanan malam ini.

Kami semua berjalan dalam diam, dan mungkin hanya beberapa kata untuk obrolan yang penting. Dan kadang tercium bau “nafas naga”.

Kabar baik datang. Seorang dari rombongan kawan baru bilang perjalanan akan segera berakhir, yang itu artinya kita akan segera sampai pada pos kedua, yaitu Kop-kopan.

Jantungku berdegup lebih santai, sesantai alunan music reggae. Memompa aliran darah dengan deras dan lebih teratur. Aliran darah mengalir membawa pesan gembira pada otak dan persendian organ tubuh. Lalu otak dan organ tubuh berkerjasama membangun kekuatan, dan mengubahnya menjadi energy dan pancaran semangat baru yang sudah pudar.

#

Kop-kopan. Kami melepas lelah dan menghabiskan malam ini disini. Segera sebelum uap hangat keringat tak mampu lagi membantu meredam dingin, kami mencari tempat datar dan membongkar salah satu carrier lalu mengeluarkan tenda. Tak ingin berlama-lama dengan selimut angin malam, kami membangunnya dan masuk kedalam. Kami semua hanya menempati satu tenda, karena tenda yang di bawa kawanku adalah tenda angkatan yang muat untuk 8-10 orang dengan dua sisi pintu yang tak bisa terkatup sempurna, maka kami membagi spase pada rombongan kawan baru kami. Selain tempat yang masih muat banyak walaupun sudah diisi rombongan kami ber-empat dan barang/logistic kami, kukira tidur bermepet-mepetan adalah solusi dari kedinginan?

Kami sudah pada posisi tidur senyaman mungkin. Dan kami sudah tak berkeringat lagi untuk meredam rasa dingin seperti setelah berjalan tadi. Maka, yang kurasa penderitanan dari lelah dan kantuk pun selesai ternyata masih belum. Penderitaan baru kami adalah rasa dingin yang ngilu. Teramat ngilu, terlebih karena diantara kami ber-empat tak ada satupun yang membawa jaket tebal yang cukup mengatasi hawa dingin. Sedangkan aku sendiri hanya membawa satu sweater tipis, dua kaos oblong dan, sebuah celana panjang kain, serta beberapa pakaian dalam yang sangat tidak membantu dalam hal menghangatkan tubuh. Dingin yang sempurna untuk membuat irama dari gigi-gigiku yang beradu.

Malam pun semakin panjang. Aku tak kenal hari apa saat itu. Yang kutahu hanya berusaha melingkarkan badan dengan berdusel pada kawanku. Otakku beku. Bagaimana dengan kawan ku yang lain? Aku tak tahu. Aku sibuk. Sekali lagi, keegoisan yang sempurna.

Dingin. Semakin membuatku menyesal ikut dalam pendakian ini. Aku rindu pulang. Dan aku lapar.

Dan tak ada yang bisa kulakukan selain hanya bertahan dalam rasa dingin dan lapar, mengeja kalimat syahadat dan banyak beristighfar ketika kupikir mungkin aku tak bisa bertahan karena rasa dingin yang kurasa sampai ke sum-sum tulang, sambil berharap matahari terbit semenit yang akan datang.

#

Alam meremang. Burung liar bernyanyi. Mengganti suara serangga malam yang tak membantu menghangatkan tubuhku. Menggigil.

Tak ada yang paling kuinginkan selain sengat matahari saat itu. Maka, ketika bola api yang berpijar itu telah mengintip dari perbukitan, segera ku keluar dan berdamai dengannya. Kalau sudah begini, tak ada yang lebih nikmat dari menyeruput secangkir kopi sebagai teman menikmati sunrise.

::
Aku terjatuh pada bukit hijau yang membawaku pada ranum dedaunan.
embun yang meleleh pada tiapnya.
Membias, mengetuk tirani takjubku.
Jadikan aku sang pemenang.
::

Hari ini dihabiskan dengan bersantai, membagi tugas mencari kayu bakar atau memasak logistic. Kalaupun udara tak sedingin malam tadi, tetap saja membuatku betah memakai pakaian rangkap tiga, maklumlah pemula. Sedang aku sendiri sibuk dengan bersantai ria diatas bukit seberang tenda kami hanya untuk sekedar menikmati alam. Hahaaha. Egois?. Memang.

#

Kerikil kecil.

Siapa yang perduli dengan batu kerikil? Kurasa tak ada yang mau repot-repot memperdulikannya. Ada banyak ribuan kerikil di jalanan, kenapa harus memperdulikan kerikil?

Maka, akulah orang yang mau berepot-repot memperhatikan kerikil. Bukan aku yang tak punya kerjaan atau aku yang menjadi autis lantaran hawa dingin, tidak sama sekali. Aku memperhatikan hanya karena salah satu dari ribuan kerikil yang ada di gunung ini mencederaiku. (maaf) kalau sedikit lebay.

2cm untuk luka yang menggores di kakiku kudapat saat kami sepakat melakukan perjalanan iseng menuju pos ke tiga, Pondokan. Iseng karena kami hanya ingin tahu seperti apa rupa dari pos ketiga. Perjalanan ini kunamai dengan “ostorogeniofuma” yang artinya “mbohlahakugkngerti” hehehe.

Dari sepuluh orang dari total rombongan kami yang ikut melakukan perjalanan ini hanya delapan orang. Sedangkan dua orang lainnya menunggu di tenda kami, mungkin tepatnya bermalas-malasan. Apa perduliku.

Dengan membawa perbekalan secukupnya, maka jadilah kami berdelapan memulai perjalanan tanpa syarat ini. Bergumul dengan peluh. Bercanda dengan kabut gunung. Indah. Terjal yang mempesona.

Kurasa perjalanan ini tak seberapa berat ketimbang seperti malam kemarin berjalan. Mungkin karena kami yang tak membawa beban selain berat tubuh kami masing-masing. Atau mungkin tubuh ini sudah bisa menyesuaikan dengan alam. Siapa yang tahu.

Putih. Menggelitik kulit. Dingin. Kabut masih setia menemani perjalanan ini.

Pondokan. Tak banyak yang istimewa dari tempat ini. Sama saja seperti Kop-kopan. Hijau. Mungkin menurutku keistimewaannya selain berupa rumah-rumah pondok para penambang belerang, tempat ini dingin. Sangat dingin. Siang yang mengerikan di tempat ini. Membuatku ingin segera berbalik dan turun. Untungnya bukan hanya aku sendiri yang merasa kedinginan di siang bolong ini. Maka kami semua sepakat langsung turun kembali menuju Kop-kopan. Setelah menyempatkan diri berfoto-foto sejenak.

Dan, diperjalan turun inilah sebuah kerikil membuatku ber cak-cuk. Ketika itu kabut masih setia menemani kami, jarak pandang hanya sekitar satu meter. Kami semua harus berekstra hati-hati menuruni lembah yang besisi jurang. Entah apa yang salah dengan diriku, ketika perjalanan ini mulai menuruni sisi bebatuan yang sedikit terjal, kaki kananku terpeleset dan membuat keseimbanganku goyah. Jadilah aku mencium tanah. Dan kurasa, Tuhanku masih bersamaku waktu itu. Karena posisi terpelesetku masih sedikit jauh dari pinggiran jurang. Menegangkan. Dan sakit. Tak ada yang tahu peristiwa ini. Selain kabut yang menyembunyikan posisi kami semua, aku adalah orang yang berada di urutan kedua paling belakang dalam perjalanan ini.
Sebuah kerikil berbentuk pipih dan sepanjang 3cm menggores kakiku. Segera setelah aku kembali tegap kuambil kerikil itu dan kumasukkan kantong. Perih dari bekas goresan itu kubiarkan. Menjadikan oleh-oleh untukku.

#

Sore. Kembali ke Kop-kopan. Dan semua berjalan normal. kembali pada kesibukan masing-masing. Sedang aku sibuk memperhatikan kerikil yang menggores kakiku tadi. Tak ada istimewanya. Maka setelah kutimang-timang, kubuang jauh ke lembah.

Menjelang malam. Dingin kembali mengedarkan kengerian. Membuat ku kembali menggigil dan sibuk meringkuk. Memikirkan kembali penyesalan-penyesalan dalam pendakian ini.

Tapi untuk malam ini, kengerian dari rasa dingin malam ini tak seberapa, karena terbantukan api unggun yang sempat dipersiapkan sebelum acara perjalan ke Pondokan tadi. Jadilah kami semua berkumpul di luar tenda dan melakukan segala aktifitas di sekitar api unggun. Kami bercanda. Tertawa. Masih ada yang menenggak minuman naga. Dan sekedar bermain gitar suka-suka. Kami melakukan semuanya dalam balutan hangat api unggun. Jadilah malam ini malam kemerdekaan untuk kami semua.

Malam berlanjut. Si jago merah kalah oleh waktu. Dingin kembali berkuasa. Dengan sendirinya kamipun sadar untuk berlindung dari terpaan angin malam. Kembali berdesak-desakan. Kembali membuat benteng pertahanan dan bertarung oleh rasa dingin. Menanti fajar.

Jingga. Tanpa suara kokok ayam.

Waktu kembali bersahabat. Ketika matahari tampak segar dikulit kami. Kami bersiap. Menghabiskan semua logistic. Dan mempacking semua barang kami. Menuruni bukit yang “mungkin” tak akan kurindukan. Kembali untuk sesibukan masing-masing. Dirumah. Sekolah. Dan cerita-cerita kami.

Perjalanan yang mengasikkan. Dan nyatanya aku masih rindu untuk mendaki lagi.

Aku suka naik gunung.

Selesai.




:: dalam perjalanan turun ini salah seorang teman sekelasku “ketelisut”, dan ada cerita lucu disini yang membuat kami sempat kebingungan. Hahaha. Biarkan ini menjadi rahasia kami. Aku tak akan bercerita ::

Tulus H

Selasa, 24 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :
Terkadang, sesekali kita perlu merasakan menjadi terasing. Mungkin dengan begitu kita bisa melatih otak kita sejalan dengan hati kita.










“jalanan”, tahukah siapakah kekasih setianya?


Sebentuk luka yang tergores pada rajutan benang – benang kehidupan, mungkin kita biasa menamainya anjal ataupun gepeng. Anak-anak, muda, paruh baya, ataupun yang tua, baik yang kuat, yang lemah, yang rapuh, ataupun yang kita anggap gila sekalipun. Pria ataupun wanita. Tak banyak yang kita tahu tentang mereka, yang kita tahu mereka hanyalah serupa bunga – bunga usang penghias sudut kota atau jalanan. Dan bahkan lebih buruk lagi.


Bukankah egois dan munafiknya diri ini ketika kita tak lagi mampu mengendalikan pemahaman sejalan dengan hati kita? Kurasa semua dasar dari keegoisan ini hanya sebuah pemikiran – pemikiran lampau dari para pendahulu kita, para leluhur kita. Pemikiran yang menjadi budaya. Budaya yang membodohi. Pembodohan dari sebuah bentuk pemikiran.


Kalau untuk hal ini, mungkin aku perlu mengatakan menyingkirlah!!!

::


Sebatas pemikiranku. Mungkin kita sedang tak sadar, bahwa pendahulu kita telah membodohi kita dengan pemikiran tak logis, sekalipun terlihat logis. Seperti bagaimana kita yang dibodohi oleh pendahulu kita tentang pemahaman – pemahaman “Rahwana merupakan makluk jelek berhati jahat” atau “hanoman bertampang buruk dengan sifatnya yang liar” dan bukan seperti seharusnya yang mengatakan “kotor itu tak selamanya berakhir dengan buruk”, untuk yang satu ini, munkin baru-baru ini saja ada sebuah iklan detergen yang menyesuaikan cara pandang seperti itu.


Apa yang akan terpikir oleh mu ketika seorang lelaki gondrong sangar dengan pakaian acak – acakan sesuai kreatifitasnya, berada didekatmu dengan suara sumbangnya mengamen dalam bus yang kau tumpangi? Apa kau nyaman? Kurasa sama sekali tidak. Kau akan merasakan lain ketika ada seorang sales girl atau sales boy dengan pakaian rapi dan bau wewangian berada didekatmu menawarkan sebuah produk. Sama – sama urusan perut dengan menjual sesuatu, tapi berbeda tingkat kenyamanan. sekalipun kita tahu bahwa kebanyakan sales bisa saja menipu kita dengan kata-katanya. Tapi kita lebih memilih mengeluarkan uang untuk para sales dari pada membeli suara si pengamen, hanya karena penampilan yang membuat mata kita nyaman. Bukan begitu? Bukankah ini bentuk pemikiran kita selama ini?


“Don’t judge book by it’s cover” atau “beauty is only skin deep”


Sudah sering pula kita mendengar kata-kata seperti ini, yang entah dari mana kita mendapatkannya. Seharusnya kata-kata mutiara seperti itu tentunya mempunyai fungsi sebagai pemicu diri kita untuk berfikir secara dewasa. Sesaat mungkin kita tersadar oleh kata-kata tersebut dan berfikir membenarkan, bahwa memang tak sepenuhnya sesuatu hanya bisa dilihat dari cover luarnya saja, tapi entah seiring termakannya waktu tanpa sadar kita masih tetap saja melupakan kata-kata mutiara seperti itu ketika kita dihadapkan dalam pengimplemantasian yang sebenar-benarnya di kehidupan kita ketika bertatap muka dengan seseorang yang berpenampilan menakutkan atupun yang terlihat nyeleneh sekalipun.


Akui saja, dari hal remeh inilah setidaknya kita sering membunuh sebuah karakter seseorang tanpa kita sadari, dimana kita sering menganggap seseorang yang berpenampilan buruk pasti mempunyai sifat yang buruk juga. Padahal banyak dari mereka yang berdasi berambut klemispun bahkan lebih jahat dari penampilan mereka. Tak heran ketika mengapa banyak penjahat sekarang yang merubah penampilan mereka menjadi sopan dan rapi untuk memperdayai kita. Padahal berbuat gilapun menurut saya tak lepas dari sesuatu yang terkadang dapat merubah dunia, seperti apa yang dilakukan para penemu-penemu sains dalam kehidupan seperti Darwin, Aristoteles, atau pemikir ekstrim landasan para kaum komunis Karl marx.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuhan tentunya menciptakan indera bukan secara sembarangan.

Kuhisap, kuhembuskan. Indera perasaku tergelitik. Nikmat.



Tulus Hajianto

Senin, 23 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

dengan menjamah lentik kata

kutemukan kau dalam seputaran kelembutan

kau menari ,

melahirkan api

pijar yang melesatkanku pada getas mimpi

kasih,

kesendirian adalah sepi yang membawamu jauh

senyap yang lesap di dadaku, seorang lelaki

galau ini tentangmu

seperti pagi-pagi sebelumnya,

menyapamu lewat jejak mentari yang membisikkan kehangatan

: memelukmu

[]

: kusebut baris ini tanpa judul,

seperti sebelumnya atau nanti sesudahnya

karena menatapmu hanya akan menerbitkan mantra-mantra yang kumuntahkan ketika rindu sedang gegas

tentunya tak bernama

seperti hujan yang selalu menjawab musim tanpa harus menamai kesetiaannya dengan bahasa puitik

atau seperti itu pula kata yang di rajahkan para ratib di keningku ketika aku mengingatmu

sedang padamu

setia, sajak dan harap ini tak bernama

[]


Tulus Hajianto

Sabtu, 14 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam |

Ini malam Jumat. Sepi. Dimana biasanya akan ada banyak kopi, rokok yang membuat segalanya tiba-tiba hidup. Sebab jumat malam itu sebuah forum tak bertuan, karena hanya ada salah satu diantara penikmatnya yang kebetulan punya uang lebih, rokok dan cerita. Tentang apa saja. Yang bisa membuat kita penikmatnya merasa tidak sendiri dan punya kawan untuk berbagi.

Tapi jumat kali ini memang sepi. Diantara para penikmatnya, paling tidak aku dan Tulus sama-sama sedang kering. Tulus sedang membantu kawannya agar dapat sedikit kecerahan pegangan, sedang aku sendiri nekat dengan bermodal uang dua ribu rupiah berangkat ke kletek untuk mencari segelas kopi susu. Dan tentu kau tau, dengan jumlah uang sebanyak itu bisa dipastikan bila aku akan ngoyot di situ. Ngopi berlama-lama agar malam tak cepat usai.

Alhasil, dengan segelas kopi susu dan sebungkus rokok sisa kemarin, kunikamati malam panjang dengan sekelumit penganiayaan hati. Tapi mau bagaimana lagi. Apa lantas dengan keadaan ini lantas aku mengamuk kepada siapapun agar ada yang mau perduli? Tidak.
Kata orang, dan katanya Tuhan juga bilang, Tuhan akan mengabulkan doa mereka yang teraniaya. Tapi aku masih terlalu jauh dengan Nya. Sungkan rasanya. Kalau toh dalam jumat malam yang sepi ini aku mengundang Tuhan untuk hadir dengan suguhan join kopi susu denganku. Tak enak rasanya. Dan dua ribu pertama sebagai bantingan awal telah diletakkan. Siapa selanjutnya? Sebenarnya aku saran pada Tuhan (memelas) agar bantingan selanjutnya bisa sampai dua milyar atau lebih. Sebab jumlah segitu sudah tidak bisa dibilang pongah dan berlebihan. Masih ada jumlah yang jauh lebih besar dari itu, dan Tuhan pun OK saja memberikan. Masa denganku ia tak mau memberi.
Kalau Tuhan bilang, kemiskinan akan dekat dengan kemungkaran dan dosa, rasanya itu benar. Tapi bagaimana denganku? Kekeringan kantong juga hamir membawaku ke sana. Hanya saja aku tak punya uang lebih banyak untuk membayar semuanya kalau kejahatanku harus dipolisikan. Aku tak kuat bila harus nyogok sana-sini. Karena kalau ingin mbajing harus punya uang lebih agar selamat. Dan aku tak punya kemungkinan itu. Setidaknya kalaupun dikantongku ada uang sepuluh ribu saja, hidupku sudah ayem. Dalam arti sebungkus rokok surya 12 dan kembalinya bisa dipakai membeli segelas kopi hitam untuk berlama-lama di warung. Sebab penjaga warungnya ku kenal baik, hanya saja masih sedikit rikuh bila harus bon.

Maka benar saja, dengan segelas kopi susu yang sudah tidak lagi hangat, dan rokok sisa kemarin. Maka giliran pikiranku yang meliar. Membayangkan bila ada orang yang hendak menjatuhkan uangnya se koper besar dan isinya ratusan ribu semua. Ah, mungkin akan semakin bertambah panjang jumat malam ini. Tapi, sekali lagi mohon dipahami kesulitan orang yang sedang tak banyak uang tapi sedang kebelet ngopi. Pahami saja semuanya tanpa pikir panjang. Biasalah. Anggap saja orang gila sedang bercericau tentang kayalan. Ketimbang aku harus memakai sarungku untuk penutup wajah lantas nggarong rumah orang. Lebih baik aku seperti ini. (semoga anda tidak bersombong ria untuk berpikir “mengapa aku tidak berusaha?” Aku sedang tak banyak uang, jadi tak butuh ceramah )
Karena perekonomian sedang sekarat, maka yang bisa ku lakukan adalah dengan menjadi pendengar setia kisah-kisah penjaga warung kopi agar ia tidak keberatan bila aku duduk berlama-lama di warungnya. Kali ini Sapari, penjaga warung kletek, mengutarakan niatnya untuk membuka warung sendiri. Ia sedang kebingungan mencari lahan yang baik, strategis untuk bakal warung kopinya. Dan semoga Sapari tak menaruh harapan padaku tentang masalah ini. Semoga ia paham dengan sorot mataku “aku sedang tak ada uang, ri. Jadi jangan berharap berlebihan denganku”. Maka cerita saja, dan akan ku dengarkan. Akan ku komentari dan kuberi saran sebisaku, semampuku, selama aku tau. Dan aku memberi penguatan padanya agar ia bisa membuka warung sendiri.

Kita akhirnya membicarakan masalah masa depan yang tak tentu arahnya. Tentang modal usaha buka warung sendiri yang masih ada di angan-angan, juga tentang gelar kesarjanaanku yang nantinya hanya sebagai bungkus kacang. Tuhan. Bolehkah aku KKN? Selanjutnya, sambil menghisap rokokku dalam-dalam, aku begitu bebalnya hingga setua ini masih saja percaya bila idialis itu masih ada. Percaya bila selain kompromi, akan ada peluang untuk bisa hidup sedikit lebih baik. Karena aku bukan tipe orang yang rewel bila berurusan dengan uang. Bisa merokok setiap hari, punya kerja tetap, ngopi, makan, membeli buku, melanjutkan S2, dan tidur nyenyak. Itu sudah cukup. Tidak rewel kan? Makanya, kalau ada yang berniat membantu, maka bantulah calon sarjana yang bebal ini. Tapi aku tak bisa balas “lemah teles, gusti Allah seng mbales”. Semoga cukup.
Menjelang pulang, Sapari mengucap banyak terimakasih padaku. Aku sendiri tak tahu untuk apa. Selain karena aku telah datang di warungnya dan menemaninya kerja, semoga saranku berguna dan menjadi penguatan ketika ia akan buka usaha warkop sendiri.
“Tuhan yang welas asih. Kalau kau tak hendak membantuku, maka bantulah kawanku dengan usahanya. Sebab ia ada anak istri yang mesti diperjuangkan. Aku tau kau dengar, Tuhan. Amin.

Kletek, menjelang pagi.
13-14 Mei 2011

Citra D vresti Trisna