Selasa, 24 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :
Terkadang, sesekali kita perlu merasakan menjadi terasing. Mungkin dengan begitu kita bisa melatih otak kita sejalan dengan hati kita.










“jalanan”, tahukah siapakah kekasih setianya?


Sebentuk luka yang tergores pada rajutan benang – benang kehidupan, mungkin kita biasa menamainya anjal ataupun gepeng. Anak-anak, muda, paruh baya, ataupun yang tua, baik yang kuat, yang lemah, yang rapuh, ataupun yang kita anggap gila sekalipun. Pria ataupun wanita. Tak banyak yang kita tahu tentang mereka, yang kita tahu mereka hanyalah serupa bunga – bunga usang penghias sudut kota atau jalanan. Dan bahkan lebih buruk lagi.


Bukankah egois dan munafiknya diri ini ketika kita tak lagi mampu mengendalikan pemahaman sejalan dengan hati kita? Kurasa semua dasar dari keegoisan ini hanya sebuah pemikiran – pemikiran lampau dari para pendahulu kita, para leluhur kita. Pemikiran yang menjadi budaya. Budaya yang membodohi. Pembodohan dari sebuah bentuk pemikiran.


Kalau untuk hal ini, mungkin aku perlu mengatakan menyingkirlah!!!

::


Sebatas pemikiranku. Mungkin kita sedang tak sadar, bahwa pendahulu kita telah membodohi kita dengan pemikiran tak logis, sekalipun terlihat logis. Seperti bagaimana kita yang dibodohi oleh pendahulu kita tentang pemahaman – pemahaman “Rahwana merupakan makluk jelek berhati jahat” atau “hanoman bertampang buruk dengan sifatnya yang liar” dan bukan seperti seharusnya yang mengatakan “kotor itu tak selamanya berakhir dengan buruk”, untuk yang satu ini, munkin baru-baru ini saja ada sebuah iklan detergen yang menyesuaikan cara pandang seperti itu.


Apa yang akan terpikir oleh mu ketika seorang lelaki gondrong sangar dengan pakaian acak – acakan sesuai kreatifitasnya, berada didekatmu dengan suara sumbangnya mengamen dalam bus yang kau tumpangi? Apa kau nyaman? Kurasa sama sekali tidak. Kau akan merasakan lain ketika ada seorang sales girl atau sales boy dengan pakaian rapi dan bau wewangian berada didekatmu menawarkan sebuah produk. Sama – sama urusan perut dengan menjual sesuatu, tapi berbeda tingkat kenyamanan. sekalipun kita tahu bahwa kebanyakan sales bisa saja menipu kita dengan kata-katanya. Tapi kita lebih memilih mengeluarkan uang untuk para sales dari pada membeli suara si pengamen, hanya karena penampilan yang membuat mata kita nyaman. Bukan begitu? Bukankah ini bentuk pemikiran kita selama ini?


“Don’t judge book by it’s cover” atau “beauty is only skin deep”


Sudah sering pula kita mendengar kata-kata seperti ini, yang entah dari mana kita mendapatkannya. Seharusnya kata-kata mutiara seperti itu tentunya mempunyai fungsi sebagai pemicu diri kita untuk berfikir secara dewasa. Sesaat mungkin kita tersadar oleh kata-kata tersebut dan berfikir membenarkan, bahwa memang tak sepenuhnya sesuatu hanya bisa dilihat dari cover luarnya saja, tapi entah seiring termakannya waktu tanpa sadar kita masih tetap saja melupakan kata-kata mutiara seperti itu ketika kita dihadapkan dalam pengimplemantasian yang sebenar-benarnya di kehidupan kita ketika bertatap muka dengan seseorang yang berpenampilan menakutkan atupun yang terlihat nyeleneh sekalipun.


Akui saja, dari hal remeh inilah setidaknya kita sering membunuh sebuah karakter seseorang tanpa kita sadari, dimana kita sering menganggap seseorang yang berpenampilan buruk pasti mempunyai sifat yang buruk juga. Padahal banyak dari mereka yang berdasi berambut klemispun bahkan lebih jahat dari penampilan mereka. Tak heran ketika mengapa banyak penjahat sekarang yang merubah penampilan mereka menjadi sopan dan rapi untuk memperdayai kita. Padahal berbuat gilapun menurut saya tak lepas dari sesuatu yang terkadang dapat merubah dunia, seperti apa yang dilakukan para penemu-penemu sains dalam kehidupan seperti Darwin, Aristoteles, atau pemikir ekstrim landasan para kaum komunis Karl marx.

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Tuhan tentunya menciptakan indera bukan secara sembarangan.

Kuhisap, kuhembuskan. Indera perasaku tergelitik. Nikmat.



Tulus Hajianto

Senin, 23 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

dengan menjamah lentik kata

kutemukan kau dalam seputaran kelembutan

kau menari ,

melahirkan api

pijar yang melesatkanku pada getas mimpi

kasih,

kesendirian adalah sepi yang membawamu jauh

senyap yang lesap di dadaku, seorang lelaki

galau ini tentangmu

seperti pagi-pagi sebelumnya,

menyapamu lewat jejak mentari yang membisikkan kehangatan

: memelukmu

[]

: kusebut baris ini tanpa judul,

seperti sebelumnya atau nanti sesudahnya

karena menatapmu hanya akan menerbitkan mantra-mantra yang kumuntahkan ketika rindu sedang gegas

tentunya tak bernama

seperti hujan yang selalu menjawab musim tanpa harus menamai kesetiaannya dengan bahasa puitik

atau seperti itu pula kata yang di rajahkan para ratib di keningku ketika aku mengingatmu

sedang padamu

setia, sajak dan harap ini tak bernama

[]


Tulus Hajianto

Sabtu, 14 Mei 2011

Posted by forumjumatmalam |

Ini malam Jumat. Sepi. Dimana biasanya akan ada banyak kopi, rokok yang membuat segalanya tiba-tiba hidup. Sebab jumat malam itu sebuah forum tak bertuan, karena hanya ada salah satu diantara penikmatnya yang kebetulan punya uang lebih, rokok dan cerita. Tentang apa saja. Yang bisa membuat kita penikmatnya merasa tidak sendiri dan punya kawan untuk berbagi.

Tapi jumat kali ini memang sepi. Diantara para penikmatnya, paling tidak aku dan Tulus sama-sama sedang kering. Tulus sedang membantu kawannya agar dapat sedikit kecerahan pegangan, sedang aku sendiri nekat dengan bermodal uang dua ribu rupiah berangkat ke kletek untuk mencari segelas kopi susu. Dan tentu kau tau, dengan jumlah uang sebanyak itu bisa dipastikan bila aku akan ngoyot di situ. Ngopi berlama-lama agar malam tak cepat usai.

Alhasil, dengan segelas kopi susu dan sebungkus rokok sisa kemarin, kunikamati malam panjang dengan sekelumit penganiayaan hati. Tapi mau bagaimana lagi. Apa lantas dengan keadaan ini lantas aku mengamuk kepada siapapun agar ada yang mau perduli? Tidak.
Kata orang, dan katanya Tuhan juga bilang, Tuhan akan mengabulkan doa mereka yang teraniaya. Tapi aku masih terlalu jauh dengan Nya. Sungkan rasanya. Kalau toh dalam jumat malam yang sepi ini aku mengundang Tuhan untuk hadir dengan suguhan join kopi susu denganku. Tak enak rasanya. Dan dua ribu pertama sebagai bantingan awal telah diletakkan. Siapa selanjutnya? Sebenarnya aku saran pada Tuhan (memelas) agar bantingan selanjutnya bisa sampai dua milyar atau lebih. Sebab jumlah segitu sudah tidak bisa dibilang pongah dan berlebihan. Masih ada jumlah yang jauh lebih besar dari itu, dan Tuhan pun OK saja memberikan. Masa denganku ia tak mau memberi.
Kalau Tuhan bilang, kemiskinan akan dekat dengan kemungkaran dan dosa, rasanya itu benar. Tapi bagaimana denganku? Kekeringan kantong juga hamir membawaku ke sana. Hanya saja aku tak punya uang lebih banyak untuk membayar semuanya kalau kejahatanku harus dipolisikan. Aku tak kuat bila harus nyogok sana-sini. Karena kalau ingin mbajing harus punya uang lebih agar selamat. Dan aku tak punya kemungkinan itu. Setidaknya kalaupun dikantongku ada uang sepuluh ribu saja, hidupku sudah ayem. Dalam arti sebungkus rokok surya 12 dan kembalinya bisa dipakai membeli segelas kopi hitam untuk berlama-lama di warung. Sebab penjaga warungnya ku kenal baik, hanya saja masih sedikit rikuh bila harus bon.

Maka benar saja, dengan segelas kopi susu yang sudah tidak lagi hangat, dan rokok sisa kemarin. Maka giliran pikiranku yang meliar. Membayangkan bila ada orang yang hendak menjatuhkan uangnya se koper besar dan isinya ratusan ribu semua. Ah, mungkin akan semakin bertambah panjang jumat malam ini. Tapi, sekali lagi mohon dipahami kesulitan orang yang sedang tak banyak uang tapi sedang kebelet ngopi. Pahami saja semuanya tanpa pikir panjang. Biasalah. Anggap saja orang gila sedang bercericau tentang kayalan. Ketimbang aku harus memakai sarungku untuk penutup wajah lantas nggarong rumah orang. Lebih baik aku seperti ini. (semoga anda tidak bersombong ria untuk berpikir “mengapa aku tidak berusaha?” Aku sedang tak banyak uang, jadi tak butuh ceramah )
Karena perekonomian sedang sekarat, maka yang bisa ku lakukan adalah dengan menjadi pendengar setia kisah-kisah penjaga warung kopi agar ia tidak keberatan bila aku duduk berlama-lama di warungnya. Kali ini Sapari, penjaga warung kletek, mengutarakan niatnya untuk membuka warung sendiri. Ia sedang kebingungan mencari lahan yang baik, strategis untuk bakal warung kopinya. Dan semoga Sapari tak menaruh harapan padaku tentang masalah ini. Semoga ia paham dengan sorot mataku “aku sedang tak ada uang, ri. Jadi jangan berharap berlebihan denganku”. Maka cerita saja, dan akan ku dengarkan. Akan ku komentari dan kuberi saran sebisaku, semampuku, selama aku tau. Dan aku memberi penguatan padanya agar ia bisa membuka warung sendiri.

Kita akhirnya membicarakan masalah masa depan yang tak tentu arahnya. Tentang modal usaha buka warung sendiri yang masih ada di angan-angan, juga tentang gelar kesarjanaanku yang nantinya hanya sebagai bungkus kacang. Tuhan. Bolehkah aku KKN? Selanjutnya, sambil menghisap rokokku dalam-dalam, aku begitu bebalnya hingga setua ini masih saja percaya bila idialis itu masih ada. Percaya bila selain kompromi, akan ada peluang untuk bisa hidup sedikit lebih baik. Karena aku bukan tipe orang yang rewel bila berurusan dengan uang. Bisa merokok setiap hari, punya kerja tetap, ngopi, makan, membeli buku, melanjutkan S2, dan tidur nyenyak. Itu sudah cukup. Tidak rewel kan? Makanya, kalau ada yang berniat membantu, maka bantulah calon sarjana yang bebal ini. Tapi aku tak bisa balas “lemah teles, gusti Allah seng mbales”. Semoga cukup.
Menjelang pulang, Sapari mengucap banyak terimakasih padaku. Aku sendiri tak tahu untuk apa. Selain karena aku telah datang di warungnya dan menemaninya kerja, semoga saranku berguna dan menjadi penguatan ketika ia akan buka usaha warkop sendiri.
“Tuhan yang welas asih. Kalau kau tak hendak membantuku, maka bantulah kawanku dengan usahanya. Sebab ia ada anak istri yang mesti diperjuangkan. Aku tau kau dengar, Tuhan. Amin.

Kletek, menjelang pagi.
13-14 Mei 2011

Citra D vresti Trisna

Senin, 25 April 2011

Posted by forumjumatmalam | File under :

Kematian.
Tak ada yang lebih pasti dari hal ini. Banyak yang bilang, kehilangan akan kental terasa saat seseorang mendapati dirinya kehilangan. Kehilangan bukanlah dikecap, tetapi dirasa. Begitulah, dan ada yang lebih tahu rahasia kematian kecuali Tuhan, setidaknya bagi yang masih meyakini-Nya.
Dan aku tak akan membahas kematian, karena kematian bagiku sebuah rahasia besar dari Tuhan yang ku yakini. Kalau boleh, aku akan menyebut kehidupanlah sebagai tokoh utama pada catatan pendek ini.
Sebelum kematian pastilah ada kehidupan, bukan begitu?
======================================================================
Hidup itu menyenangkan, semenyenangkan kita terjun ke kolam coklat manis seperti dalam iklan coco crunch.
Hidup itu menyedihkan, semenyedihkan menuntun sepeda motor bocor jauh dari tukang tambal ban.
Hidup itu beresiko, seberesiko tidur di kandang macan betina yang lapar melindungi anak-anaknya.
Hidup itu konyol, sekonyol tampang tokoh kartun patric dalam serial kartun spongs bob.
Hidup itu memalukan, sememalukan wajah anda……. Hheehehhe….
Dan hidup itu...
Banyak rasa, banyak warna, banyak cerita, dan banyak menghabiskan uang.
Terserahlah bagaimana anda memaknai hidup dari angan anda sendiri, aku tak akan prostes.
#
Perjalanan kehidupan bagiku tak hanya menjalani hidup dengan bernafas atau memainkan sebuah peran seperti lagu dari Nicky Astria, walaupun toh memang bernafas pada dasarnya adalah kebutuhan untuk hidup, dan lagu Nicky Astria memang enak didengar. tidak, bagiku lebih daripada itu, aku akan menyebut sebagai sebuah perjudian yang memuja dewi fortuna, perjudian yang memerlukan keberuntungan bagi para penjudi pemula. atau kadang, tampak seperti sebuah permainan monopoli yang mengandalkan keberuntungan juga.
Awal mulanya akupun berfikir seperti kebanyakan orang dan petuah dari guru-guru sekolahku dulu kalau saja setiap usaha pasti akan mempunyai efek dari usaha tersebut, tergantung apapun usaha tersebut. Nyatanya ketika aku menemukan sepotong ingatan pada masa sekolah dulu di sebuah warkop saat sedang bersantai menikmati kopi dan rokok, kini ada sedikit keraguan atas teori tersebut, seperti dimana aku merasa sangat bodoh ketika semasa SMP dulu aku pernah belajar untuk persiapan menjelang ulangan cawu pertama (system tiga cawu), entah kenapa untuk saat itu aku hanya ingin belajar, padahal aku sangat pemalas jika disuruh belajar, aku tak tahu pasti.
Hari H pertama ulanganpun tiba, saat itu sudah banyak aku menghapal teori-teori dari buku paket pelajaran untuk ulangan hari pertama. dengan yakin dan PD ku lumat habis soal-soal ulangan mata pelajaran pertama pada hari ini yang kurasa mudah karena usahaku belajar yang kurasa cukup. Begitupun saat ulangan mata pelajaran yang kedua, dan hari-hari selanjutnya. Kupikir semua akan berjalan sesuai apa yang kuharapkan. Nyatanya ketika hari pembagian ulangan, hampir semua kertas ulangan menyungingkan senyum merah menawan dari goresan tinta merah para guru-guruku.
Entah apa yang salah pada usahaku atau memang nasib ku yang jauh dari keberuntungan, aku tak tahu. Belum lagi ketika ku tahu teman yang hobi bermain PS dan enggan belajar sedikitpun, yang otaknya 11-12 dengan ku lebih baik nasibnya dari padaku dari hasil ulangan yang mencontek dan ngarap ngawur semua soal yang tak dia bisa, terbukti ketika banyak ku cocokan jawaban dari kertas ulanganku dan miliknya dengan buku paket pelajaran yang seharusnya jawabankulah yang benar. ah… semua tak terlihat logis. Asuuuuuuuuuu……………………!!!
Maka, pengalaman adalah guru yang terbaik. Sepakat.
Untuk ulangan cawu ke dua dan akhir cawu, sudah pastilah aku kapok untuk belajar (sampai sekarang---hheeheehee). Dan ternyata benar, hanya sedikit kepercayaan akan keberuntungan toh ulangan-ulanganku di kedua cawu itu setidaknya masih sedikit lebih baik dari pada cawu pertama. Walaupun masih pantas disebut buruk 
Dan pada akhirnya, keberuntungan lah menurutku yang paling berperan penting mengantarkan kita pada kisah-kisah hidup yang menyenangkan, menyedihkan, beresiko, atau malah membuat kita malu dan konyol menyikapi keberadaan kita sebagai makluk hidup. Seperti pada kemudian hari ketika kita berbicara soal nasib yang mempermainkan hidup ini, ketika kita tak dapat meraih apa yang diharapkan, walaupun dalam usaha dan do’a kita patut mendapatkan banyak klikan like seperti di facebook.
Kalau belum beruntung mau apa lagi?
====================================================================
Percaya atau tidak, mungkin sesekali kita boleh sedikit bermain-main dengan hal-hal diluar logis atau gaib, tak ada salahnya mencoba, seperti seorang penjudi togel yang mencoba peruntungan nomor yang di dapat dari hasil ngerandongnya. Sesekali mungkin kita bisa mencoba walaupun tak harus dalam urusan perjudian murah macam judi togel, cari mbah dukun misalnya, lalu minta di bacakan mantera pada diri kita, atau membeli barang bertuah (pusaka) darinya. Agar keberuntungan tak jauh-jauh dari kita. Tak ada salahnya mencoba. Hahhahaha…..


:: Penting gk penting, Aku hanya ingin menulis ::


Tulus Hajianto

Minggu, 17 Januari 2010

Posted by forumjumatmalam | File under :

Tepat setengah dua belas malam aku sampai di Medaeng.
Di warung, aku tak mendapati si atheis itu. Brengsek. Katanya dia sudah menunggu aku di warung. Jangan-jangan dia memang sedang keluar dengan kawan-kawannya, atau malah dengan kekasihnya. Tak masalah memang dia ada janji dengan kekasihnya kapanpun dia mau. Tapi kalau sudah ada janji denganku, dia tak bisa seenak jidatnya. Atau jangan-jangan dia tidur. Sudahlah, aku datangi saja dia langsung kerumahnya. Barangkali masih di rumah, atau sedang tidur.
Sampai dirumahnya ku sms dia agar segera keluar. Bah, ternyata dia tak kunjung keluar juga. ku miscal dia barangkali dia tak mendengarku. Selepas itu, dia membalas pesan dariku. Ia menyuruhku menunggu di warung. Aku melaju ke warung Medaeng.
*
Kupesan segelas kopi. Aku mengambil sebatang rokok sisa tadi sore dari saku jaketku dan menyalakannya. Ku hisap perlahan dan menikmati semua gejolak dan ledakan kenikmatan yang timbul dari asap rokokku. Kini didepan mataku berseliweran banyak hal yang membutuhkan dipikirkan dengan mendalam. Tentang Trunojoyo ‘pahlawan’ dari Madura, tentang arti sebuah pahlawan, tentang hidup, tentang tulisanku mendatang, tentang Nita yang hendak berangkat KKN di Sampang. Ah, aku kelelahan begitu melihat begitu banyaknya sesuatu yang memenuhi kepalaku.
Kemudian yang tak terlewatkan, tentang aku yang mulai merasakan diriku berada di tepian jurang antara batas waras dan gila. Tapi entahlah, apa sesuatu yang aku anggap waras justru sesuatu yang sebenarnya gila, atau yang aku anggap gila justru hal waras yang memang wajib dijalani seseorang yang belajar menjadi manusia. Sampai hendak menangis aku merasakan adanya distorsi terhadap jalan yang hendak aku lalui. Antara jalan gila dan jalan waras yang aku lalui mendadak menjadi sebuah kolaborasi dan membentuk tatanan yang apik hingga terkadang aku bingung dalam menentukan pilihan. Namun tak jarang pula aku temukan sebuah jalan kewarasan dimana aku sangat yakin akan kebaikan dari jalan yang aku renungkan. Tapi pada saat aku hendak menuju jalan yang aku pilih, keadaan, waktu, dan semuanya memaksaku memilih sebuah jalan yang telah aku tinggalkan, yakni kegilaan. Namun yang menjadi aneh kemudian adalah, jalan yang aku anggap sebagai jalan mereka yang waras, ternyata mereka anggap jalan yang salah atau jalan gila.
Inilah aku orang yang masih hendak belajar menjadi manusia, dengan banyak hal yang rumit membuat aku selalau bertanya. Apa aku sudah gila? Apa aku….
Belum sempat kiranya aku menyelesaikan dan menyuntuki pikiran-pikiranku, si Atheis itu telah datang dengan senyum terbaiknya – licik tentunya.
*
Sosok tubuh kurus dengan wajah tirus serta dengan kulit yang legam, dan yang tak ketinggalan senyum khas dengan mata menyipit seperti merencanakan kebusukan. Siapa lagi. Tak ada orang dengan cirri-ciri sebegitu menyeramkan seperti dia. sulit sekali tersamarkan, kecuali pada pertemuan sebelumnya dimana dia tersamar diantara gelap malam dan rumbun pepohonan. Benar-benar khas iblis.
Sudah dapat langsung aku tebak, apa yang akan dia pesan. Sesuatu yang berwarna coklat dan rasanya manis. Yah tepat, dia memesan kopi susu. Minuman yang pernah aku anggap sebagai perlambang kelamahan dan kebanci-bancian.
Katanya dia adalah seorang penggemar lethek kopi, tapi nyatanya dia selalu merusak letek dengan kontaminasi dari susu, yang bagiku kuanggap sebagai perlambang kewanita-waanitaan. Apalagi kewanita-wanitaan itu dilakukan oleh orang yang mempunyai penampilan sangar.
Si Atheis menanyakan kawanku Depy yang aku bawa sebelumnya karena kebetulan dia ada di tempatku. Dia juga menanyakan sikap Depy yang menurut Atheis terkesan ngetes pada setiap perkataannya. Dia merasa agak rikuh dengan seperti itu dan merasa tak lagi dapat los ketika berbicara. Dan menurutku begitulah si Depy. Dia mudah terpukau pada hal-hal baru yang ada di sekitarnya.
Sudah beberapa jumat tidak tidak kita lewati dengan menaklukan malam karena berbagai hal. Seperti yang jumat sebelumnya dimana dia kelelehan karena acara tahun baru, kemudian dia yang kecapek’an dan ketiduran. Ah alasan lelaki legam itu saja.
Dan hari ini aku dan dia membicarakan perihal Penjahat kasus suap jaksa si Artalita. Bagiku bukan Artalita yang jadi sumber permasalahan sebenarnya terhadap masalah di pondok bambu, namun orang-orang yang menjadi petugas penjara yang patut dipersalahkan. Karena tidak akan mungkin ada penyuap kalau yang disuap tidak mau. Dan yang tak luput dari kecamanku adalah sikap para sipir yang memalukan, termasuk pemerasan seperti yang tertulis di jawapos beberapa hari yang lalu. Hal ini juga dibenarkan dan diamini dalam buku kisah para ratib karangan Arswendo seputar dunia penjara.
Si Atheis nampak keberatan dan seperti ingin megutarakan pendapatnya. Dia beranggapan hal itu wajar dan sudah berlangsung sejak sekian lama, oleh sebab itu hendaknya tak terlalu dipermasalahkan. Tapi tidak bagiku. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang paling dengan anti dengan system dan nilai. Terlebih lagi sebuah system yang bobrok, yang dengan bangganya dikatakan telah lebih baik dari sebelumnya ujar SBY. Ah orang itu terlalu mengada-ada. Nampaknya ada yang terganggu diantara system kerja otaknya karena kasus century tak kunjung mereda. Dan kembali kukatakan kepada atheis itu lagi, bila pemindahan Artalita ke tempat yang pantas hanya sebuah kesementaraan. Dan kembali kasus seperti ini akan terulang kembali dikemudian hari ketika pengawasan tak lagi ketat seperti dulu.
Boleh dibilang kasus yang menyangkut system di Indonesia, terutama kenegaraan itu hampir bisa disamakan dengan pelacuran. Setelah sebuah tempat mangkal pelacur jalanan digaruk oleh aparat maka satu atau dua hari tempat itu menjadi sepi dan para pelacur itu akan libur. Namun setelah dirasa aman, mereka akan kerja kembali. Begitu juga system yang ada di negeri ini, dan bahkan lebih parah dari pelacuran.
Semua karena tidak ada yang punya itukad baik dalam merubah negara ini menjadi lebih baik. Semua yang maju dengan janji menjadikan keadaan lebiih baik dari sebelumnya hanya omong kosong. Ya RW, ya lurah, ya camat, ya bupati, gubernur, presidennya. Semuanya bosok.
*
Menjelang malam aku bercanda dengan si atheis tentang permasalahan hujatan para Raper kepada kangen band. Kita juga memperbincangkan tentang reagae, kangen band, dangdut, band papan atas. Si atheis mempermasalahkan masalahkan mengapa hujatan hanya disematkan kepada kangen band dan band-band melayu saja dan bukan Dewa, Padi, Boomerang, Slank, dll. Apa karena para Rapper kehilangan nyali karena takut berurusan dengan para penggemarnya.
Perbincangan akan hal ini bermula ketika aku mengingat ketika si tulit masih memuja RS dia sering memamerkan lagu kangen bandnya kepadaku. Dan aku menertawainya karena menurutku sangat lucu. Dengan muka khas iblis, tapi kegemaran lagu kangen band. Dia berkilah bila hanya lagu-lagu tertentu yang dia suka dan yang membuatnya teringat RS. Dia juga menekankan kalau dia sendiri juga tidak terlalu fanatic dengan kangen band. Hanya saja dia mempermasalahkan mengapa kesanggupan para Rapper itu hanya berani menghujat band amatir. Kemudian kalaupun ada yang berani menghujat Ratu, itupun harus berlindung dibawah ketiak Dani sebagai orang yang punya nama besar di belantara music.
Pada umumnya dalam perbincangan ini aku mendukung mengapa para Rapper itu mengejek kangen band. Namun segera saja si tulit menyela pembicaraanku.
“Apa karena muka personil kangen band yang hanya pantas menjadi penjual cendol”
Aku hanya bisa tertawa. Namun tak aku ungkapkan itu, karena salah satu alasan dari hujatan kepada kangen band itu berawal dari performen personilnya.
Begitulah pada akhirnya. Tak ada penyelesaian dan hanya melahirkan tawa yang meledak di pagi yang dingin.
Ketika menjelang subuh. Aku berpamitan untuk pulang karena mataku telah mengantuk.

Citra Dara Vresti

Sabtu, 26 Desember 2009

Posted by forumjumatmalam | File under :

Menuju akhir tahun. Kita masih tetap ngopi, tetap merokok, dan senantiasa berfikir tentang banyak hal. Hari ini adalah hari natal. Dan aku ucapkan selamat bagi yang merayakan.
Hidup memang penuh dengan profokasi. Baik, buruk, hitam, putih. Semuanya menyatu dalam sebuah pergulatan yang menjelma nasihat. Dan sebagai sebuah nasihat maka semua hasutan itu terasa campur aduk. Kadang baik dan kadang buruk. Ada juga baik yang didalamnya terdapat misi jahat, ada yang jahat namun dengan latar yang sedikit agak baik.
Seperti ketika orang vespa membujukku untuk menjual si hitam (baca: Alfa 900 jt) dan membeli sebuah skuter, lantas menggarapnya menjadi skuter keren dan ikut kedalam anggota touring. Menjanjikan, namun juga menggelikan, karena aku pikir 900 juta bukan milikku, melainkan milik Dadyku. Kemudian yang tak kalah menjijikkan, ketika si atheis membujukku untuk melakukan kebodohan untuk yang kedua kalinya, maka permintaannya aku jawab dengan tegas: tidak. Hah, dia pikir dia siapa berani membodohi aku dua kali. Dan yang menjadi catatan menarik hari ini adalah ketika Hp si atheis itu hilang, dimana didalamnya memuat rekaman penting tentang masa depanku yang kalau tersebar bisa berbahaya. Untunglah semua itu hilang dan batal untuk tersebar. Ini memang hariku. Senyum kemenangan.
*
Aku berangkat sekitar pukul sepuluh malam. Sejuk lembut angin belai rambutku perlahan, napas malam dihembuskan tepat dimukaku. Napasnya perlahan-lahan dan terputus-putus. Bau kelelahan dapat tercium dari hembusannya. Maka sudahlah tidur saja. Biar aku yang menahlukan malam dengan semangatku yang terbakar. Aku melaju.
*
Sesampai di warkop, aku tak melihat si atheis itu, dan aku langsung memutar otak dengan ke rumahnya. Ku toleh ke arah jembatan dekat sebuah mesjid, karena barangkali ia nongkrong disana dengan kawan-kawannya. Ternyata tidak.
“Ssst sst”
Seseorang nampak seperti menggodaku. Apa dipikirnya aku adalah cowok murahan. Kulirik spion. Apa aku cantik sehingga mereka menggodaku dan tak tahu bila aku adalah seorang lalaki yang ganteng. Karena memang hari itu aku mengurai rambutku.
Ponselku bordering. Ternyata dari si Atheis busuk itu.
“Aku nang buk pinggir kali pak”
“Oh yo…yo…yo….sek. Tak mrono”
Oh semprul pikirku. Jadi yang ‘ssst ssst’ tadi si Atheis laknat itu. Seperti yang aku duga sebelumnya bila kulitnya memang sudah legam dari sejak bayi. Jadi bisa dibilang kulit yang seperti terbakar adalah kutukan yang sulit hilang. Sehingga ia tak pantas menyalahkan mentari.
Si Tulus seperti tersamar diantara malam. Pekat yang ada menutupi dan menyamarkan mukanya. Namun dapat segera aku kanali sebuah senyum licik khas penghuni sebuah rumah dibelakang rutan medaeng. Dia adalah Si Tulit.
Kali ini dia bersama seorang anak yang berkulit legam juga dengan kepala plontos khas pukon yang membuatku berhasrat menjitak kepala orang itu.
Dari kesan pertama sejak aku turun dari sepedaku, lantas dapat aku terka dia adalah anjing negara. Kemudian saat aku mengulurkan tangan mengenalkan diriku padanya, dia hanya menjabat uluran tanganku tanpa menyebutkan namanya. Aku pikir dia tak butuh kenal denganku. Bah, dasar anjing pongah. Makan apa kau kalau tidak dari pajak yang aku stor ke negara. Baru jadi alat saja sudah sok. Dan segera saja aku memafhumi bila ini masih di Indonesia. Jadi wajar saja jika aku temui banyak orang macam dia.
Si Tulit menceritakan bila ponselnya hilang di secret PA nya. Katanya sekretnya dibobol maling. Dia menyesalkan rekaman biadab yang ada di ponselnya. Hahahahaha hari ini begitu indah. Dia tak punya senjata lagi atas diriku.
Tak seberapa lama karena anjing it uterus-terusan di cuekin, maka ia mengajak untuk kembali pulang. Tulit mengantarnya entah sampai mana. Kemudian kembali dengan membawa laptop, karena rencananya malam ini kita akan menggarap dan mendesain blog ini sama-sama.
Di warkop dengan pemandangan seperti biasanya. Sebuah tontonan video terbaru, dengan orang-orang yang sedang serius menyaksikan. Bisa dibayangkan, kalau misalkan itu film kolosal yang menampilkan perang tentara Romawi atau perang salibnya Om Salahudin, itu masih wajar. Tapi kalo yang dilihat adalah film kartun. Sudahlah memang seperti inilah orang Medaeng, yang memang lain dengan Sambisari yang diramalkan setahun lagi akan menjadi metropolitan.
Kupesan secangkir kopi kepada Mas Wawan serta minuman wajib yang agak kebanci-bancian – kopi susu. Kalau bicara masalah nilai hidup dari sebuah kopi, maka akan langsung mengigatkanku pada jumat malam yang dulu. Kalau tak salah tempatnya di pinggiran rel kereta didekat Royal Plaza.
Tak berapa lama setelah penjual bebek goreng itu tutup, aku dan atheis itu pindah ketempat yang sepi itu. Dan ternyata, disana sesuai dengan harapan kami. Ada colokan sehingga kita dapat edit blog sampai pagi tiba, serta sambil berbicang tentang banyak hal.
Pertama kalinya aku posting sebuah catatan jumat malam yang telah aku persiapkan dan kusimpan di flasdis Nita. Kemudian setelah posting seesai, kami memberikan buku tamu pada blog kami lewat layanan shoutmix. Selain itu kita juga menambahkan artikel yang benar-benar tak penting sekali untuk ditulis ataupun dibuat.
Sebuah kode etik yang kita sepakati guna mencegah penjelek-jelekan dan profokasi atas pembaca melalui foto. Kalau ingin tau kode etik gila seperti apa yang kita buat. Klik aja disini.
Kemudian yang tak kalah tak penting adalah kami posting foto-foto kami – si Atheis di sisi kanan, sedangkan aku di sisi kiri. Sama sekali tak penting, namun nyatanya kami melakukannya. Apapun kata mereka, kita tak perduli.
*
Dan pada sore ini ketika aku mencari sesuatu di warnet, aku menyempatkan diriku untuk melihat blog kami. Ada sesuatu yang mungkin akan mengejutkan si atheis liar itu. Bisa dibayangkan si SA komen. Komennya seperti ini.
Aku bermaksud memberinya kejutan, tapi aku urungkan, karena biarkan dia melihat sendiri. Dan Kejutannya akan lebih luar biasa ketimbang aku beritahu dia.

Citra Dara Vresti T
25-26 Des 09

Jumat, 25 Desember 2009

Posted by forumjumatmalam | File under :

Karena Blog ini merupakan BLOG BERSAMA, maka sudah dipandang perlu bila harus ada KODE ETIK dalam posting sebuah artikel atau gambar:

1. Karena para admin blog - citra dan tulus - saling bersikukuh sama-sama menganggap ganteng dirinya. MAKA DILARANG MEMOSTING FOTO LAWAN TANPA SEPENGETAHUAN KEDUA ADMIN, KECUALI FOTONYA SENDIRI.
2. Admin dilarang mengisi buku tamu yang bermaksud memfitnah dan menjelek-jelekan lawan (admin satunya). Dan hanya diperbolehkan membalas dari pengunjung.
3. Admin dilarang sebut "merek". Kalaupun dengan terpaksa, harap menggunakan inisial.
4. DILARANG KERAS MENGEDIT FOTO LAWAN, DAN MEMPOSTING DENGAN MAKSUT MEMPROFOKASI PEMBACA.
5. Karena dalam blog ini menginginkan ORISINALITAS. Maka dilarang KERAS COPAS (COPY n PASTE)dari blog Lain.
6. Dilarang posting gambar dan tautan VIDEO PORNO.
7. Dilarang buka blog sambil onani.
8. Dilarang kencing sembarangan.
9. Larangan selanjutnya akan ditambahkan seiring perjalanan Blog.

Keharusan admin:
1. Mempromosikan blog SAMPAI KESELURUH DUNIA DAN AKHIRAT
2. Memposting tulisan minimal 2 minggu sekali.
3. Bahagia dunia dan akhirat.
4. Berbakti kepada kedua orang tua.
5. Sayang adik kakak.
6. Rajin menabung.
7. Tidak sombong dan baik hati.

Di tulis di warkop medaeng pada tanggal 26 Desember 2009 pukul 3.35 am.
Atas nama bangsa indonesia

Pak Rt dan Tulus Tulit Telez