
buat santai-santai aja. dengerin gk bakal nyesel :)
Den Basitho-Sahabat.mp3
Tony Q Rastafara ft Krisdayanti - Cintaku.mp3
bang Iwan Fals aja ngerreggae :D
Iwan Fals - Mabuk cinta.mp3


Kalau saja dunia yang kita tempati ini sebuah cerita kartun, akankah kita masih mengenal kesedihan? Sungguh, sesuatu yang akan benar – benar indah dan membuat kita terlepas dari semua beban yang menggantung di kedalaman kita. Ah, andai saja…
Bagi kami, “urip songo” (hidup enak) itu, bersandar di kursi nyaman dengan menikmati secangkir kopi dan rokok, focus pada sebuah music santai sambil memandangi hijaunya alam atau birunya laut. Dan sepertinya tak seberapa jauh beda dengan hidup enak versi mereka yang bukan para candu nikotin dan ampas kopi seperti kami. Bolehlah seperti apa hidup enak versi setiap individu. Sedangkan bagi mereka yang masokis pun tetap saja sejalan dengan kenyamanan versi mereka sendiri, tak berbeda. Terlepas dari bagaimana tiap individu mengeksplor pikirannya tentang hidup enak dengan berbagai versi, satu yang jelas bahwa tiap individu selalu menginginkan sesuatu yang disebut dengan HAK. Hak yang membuat kita nyaman, damai, layak, yang selalu kita sebut Hak untuk hidup. Hak enak dan tak alot tentunya.
Lalu ingatkah kita tentang pelajaran Agama dan Pkn kita semasa sekolah dulu, bagaimana kita belajar menempatkan antara Hak dan Kewajiban? Atau kah kita yang sudah lupa dan memang sengaja melupakan perihal tersebut? Sehingga kita tak sadar bergerak melalui keegoisan kita atas nama Hak. Hak yang selama ini kita kenal, melekat erat pada ke egoisan diri kita, yang seringkali membuat kita menjadi makluk dengan seribu tuntutan atas hidup, atas masalah kita, sekali lagi atas nama Hak. Hak yang telah lama membuat kita hanya sekedar mencari pembenaran untuk memberikan rasa aman terhadap diri kita sendiri.
Ah, bukankah kita sarat menjadi sombong atas diri kita yang selalu membawa – bawa Hak menyikapi realita. Sadar atau tidak, bukankah sebenarnya sumber masalah dari kesedihan kita kebanyakan adalah diri kita sendiri, yaitu kita yang selalu melihat suatu masalah cenderung dalam sudut pandang yang sempit. Kita yang tak pernah berniat untuk melihat masalah itu lebih jernih, jauh, dan mendalam, melainkan hanya sekedarnya untuk melindungi kepentingan dan harapan diri sendiri. Dan lagi, kecenderungan macam itu telah menyempitkan cakrawala pandangan kita terhadap sesuatu yang sering kita lupa, atau mungkin sudah kita lupakan, yaitu Kewajiban.
Marilah kita berjalan, sekedar mengedarkan pandang terhadap trouble maker nya kehidupan, sadarkah kita untuk berpikir sejauh mana kita bisa mendahulukan kesekian kalinya antara Hak dan Kewajiban. Sadarkah kita bahwa teori selama ini selalu benar. Teori Agama dan Kewarganegaraan yang mendahulukan Kewajiban. Bukankah sudah jelas ajaran kedua ilmu tersebut yang menekankan KEWAJIBAN MENDAHULUI HAK.
Ataukah mungkin hanya karena kita adalah manusia yang naïf, yang tak bisa merasa dan peka lantaran perut kita perlu di isi sebagai tuntutan kita menyambut datangnya pagi, dengan mudahnya membuat kita melupakan penempatan yang tepat untuk Kewajiban, dan memastikan lebih dulu apakah Hak kita sudah sesuai atau belum. Ataukah juga karena kita yang terlalu berjiwa kritis , terlalu menjiwai diri sebagai seorang manusia sehingga membuat kita terjebak pada tindakan memihak dan tidak memihak (subyektifitas & obyektifitas) Hak dan Kewajiban, sehingga Hak selalu lebih berkuasa dari pada Kewajiban.
Tak cukup kah kita melihat berbagai variasi perlawanan kaum Negeri ini, baik dari masyarakat, ormas, mahasiswa, dan juga suporter sepak bola yang berteriak mengedepankan Hak diatas kewajiban bukan menyeimbangkan keduanya melalui Kewajiban terlebih dahulu. Menuntut terjadinya perubahan sesuai keinginan tanpa membeberkan tindakan nyata dari Kewajiban mereka. Tindakan nyata dari apa – apa yang sudah mereka lakukan untuk tuntutan mereka.
Lihatlah bagaimana ketiga elemen masyarakat kita ini yang terlalu congkak pada tuntutan Hak mereka. Tentang seperti apa kaum bawah meminta Hak untuk hidup layak tanpa keseimbangan dari usaha mereka mencapai hidup layak sebagai bentuk Kewajiban mereka, dan juga tentang kaum menengah yang meminta Hak kesejahteraan hidup yang semakin layak seperti kaum atas tanpa memperdulikan kaum bawah sebagai suatu Kewajiban mereka untuk menjembatani komunikasi antara atas dan bawah, serta sombongnya kaum atas yang meminta Hak atas kekuasaan yang seringkali membuat mereka terkotak dalam pola hidup hedonisme dan dengan mudahnya melupakan Kewajiban membela Hak – Hak kaum dibawahnya.
Dan lihatlah pula tuntutan dari ormas – ormas berbasis Agama yang menuntut Hak dari pemikiran egois mereka tanpa memperlihatkan langkah konkrit Kewajiban mereka sebagai kaum beragama. Ataulah para calon – calon penerus bangsa, dengan nama mahasiswa yang secara tak langsung bersikap plin – plan terhadap tuntutan mereka, bahkan kalau dalam tolak ukur sudahlah pasti tuntutan mereka hanya sebatas 40% dibandingkan niat lain mereka, yaitu Hak bebas berpendapat, Hak ingin diakui, Hak melakukan pengrusakan, Hak bersandiwara atas dasar rakyat. Lalu, semudah itukah para mahasiswa melupakan Kewajiban mereka sebagai orang berpendidikan. Dan juga lebihkah penting para suporter sepak bola menuntut Hak kemenangan terhadap apa yang mereka dukung tanpa mendahulukan Kewajibaan sebagai supporter yang bijak dengan tidak berbuat keonaran.
lelucon macam apa lagi yang akan kita mainkan diatas Hak?
Masih layak kah kita sedih atas masalah kita lantas merongrong Hak kita terlebih dahulu?
Sungguh, percayalah. Pancasila tak dibuat secara sembarangan…
TULUS H

Bukankah pada sebuah goresan selalu tersemat sebuah cerita ?
Berawal dari iseng-iseng yang kulakukan, bersama ketiga teman yang kupikir sama-sama nekat atau malah tolol. Aku tak akan menyangka bahwa keisengan ku membawaku pada sebuah goresan yang akan kukenang. Goresan alam pertamaku.
Arjuno. Aku tak pernah tahu seperti apa keaslian sebuah gunung, selain hanya dari cerita kakakku yang pernah mendaki, yang kutahu gunung hanya serupa tumpeng raksasa. Tak lebih.
Saat itu, entah bagaimana aku menyepakati ajakan seorang kawan sekelas untuk melakukan perjalanan pendakian, aku tak tahu awalnya, yang pasti dan jelas sudah ada dua peserta perjalanan lainnya yang juga sekelas. Kami sepakat, maka libur tiga hari menjadi waktu yang tepat.
#
Terminal kota Pandakan. Tak jauh berbeda suasana dengan terminal purabaya selain luasnya. Entah, kupikir, apakah sama semua wajah terminal-terminal di Negara indah ini. Ah, sudahlah, aku tak mau mengganggu perjalanan ini dengan larut pada bentuk-bentuk abstrak terminal.
#
Pos perijinan. Setelah sedikit administrasi ini itu, kami melangkah. Langkah awal kami pada sebuah cerita baru dalam kegiatan alam. Ya, diantara kami ber-empat, tak ada satupun yang pernah melakukan pendakian gunung, hanya bermodal nekat dan cerita bagaimana rupa gunung Arjuno. Itu saja.
15 menit kabar yang kami dapat dari penjaga pos dari wisata ini untuk melintasi wisata kakek bodo menuju pos pertama pet bocor, dan dengan sedikit bertanya pada para pedagang asongan kami memantapkan langkah untuk menuju kesana.
Pet bocor. 15 menit bukanlah waktu yang cukup bagi para pendaki amatiran macam kami, kurasa hampir 1 jam kami perlukan dari perkiraan soal waktu awal menuju Pet bocor. Ngos-ngosan.
Maka, tak salah kenapa dinamakan Pet bocor, karena memang di situ terdapat saluran pipa besi yang bocor menyemprotkan air gunung dengan deras. Entah siapa yang menamai dengan sebutan pet bocor. Sedikit aneh.
Sebenarnya, bukan masalah karena kami bertiga terlalu sombong untuk berjalan sendiri, tapi lebih karena kami murni merasa tak nyaman dengan orang yang baru kami kenal. Kami bukanlah orang yang mudah percaya pada orang lain. Itu saja.
#
Sore menjelang malam.
Bunyi genderang langkah kami, deru nafas, dan tabuhan jantung yang ber-ngerock ria menjawab bagaimana rasanya mendaki gunung, bahkan ini lebih parah dari yang ku rasakan saat menuju ke pos pertama di Pet bocor tadi. Perjalanan ini terasa berat dan lama bagi kami para pemula.
Dingin mengedar. Lelah berlipat.
Sungguh, aku rindu sengat matahari. Sedikit menyesal, pikiranku berlabuh pada kasur empuk dirumah dan selimut hangat ketika kulihat kerlip lampu-lampu kota dari atas selama perjalanan. Ingin rasanya berbalik dan berlari pulang. Tapi apa aku bisa dan cukup berani. Semua menguap tak berarti. Lampu-lampu kota tersebut hanya melecehkan tindak penyesalanku (T.T), dan entah bagaimana dengan pemikiran kawan-kawanku yang lain. Aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk menyesal. Sibuk mengatasi rasa dingin dan lelah. Keegoisan yang sempurna
Waktu begitu rahasia. Entah sudah berapa lama kami berjalan. Bahkan kupikir kami akan menghabiskan malam ini bersama lelah. Kanan-kiri dan masih tetap menanjak. Hanya taburan bintang dan kerlip lampu-lampu kota yang kadang terlihat sebagai hadiah kecil untuk perjalanan malam ini.
Kabar baik datang. Seorang dari rombongan kawan baru bilang perjalanan akan segera berakhir, yang itu artinya kita akan segera sampai pada pos kedua, yaitu Kop-kopan.
#
Kami sudah pada posisi tidur senyaman mungkin. Dan kami sudah tak berkeringat lagi untuk meredam rasa dingin seperti setelah berjalan tadi. Maka, yang kurasa penderitanan dari lelah dan kantuk pun selesai ternyata masih belum. Penderitaan baru kami adalah rasa dingin yang ngilu. Teramat ngilu, terlebih karena diantara kami ber-empat tak ada satupun yang membawa jaket tebal yang cukup mengatasi hawa dingin. Sedangkan aku sendiri hanya membawa satu sweater tipis, dua kaos oblong dan, sebuah celana panjang kain, serta beberapa pakaian dalam yang sangat tidak membantu dalam hal menghangatkan tubuh. Dingin yang sempurna untuk membuat irama dari gigi-gigiku yang beradu.
Dingin. Semakin membuatku menyesal ikut dalam pendakian ini. Aku rindu pulang. Dan aku lapar.
#
Tak ada yang paling kuinginkan selain sengat matahari saat itu. Maka, ketika bola api yang berpijar itu telah mengintip dari perbukitan, segera ku keluar dan berdamai dengannya. Kalau sudah begini, tak ada yang lebih nikmat dari menyeruput secangkir kopi sebagai teman menikmati sunrise.
Hari ini dihabiskan dengan bersantai, membagi tugas mencari kayu bakar atau memasak logistic. Kalaupun udara tak sedingin malam tadi, tetap saja membuatku betah memakai pakaian rangkap tiga, maklumlah pemula. Sedang aku sendiri sibuk dengan bersantai ria diatas bukit seberang tenda kami hanya untuk sekedar menikmati alam. Hahaaha. Egois?. Memang.
#
Kerikil kecil.
Maka, akulah orang yang mau berepot-repot memperhatikan kerikil. Bukan aku yang tak punya kerjaan atau aku yang menjadi autis lantaran hawa dingin, tidak sama sekali. Aku memperhatikan hanya karena salah satu dari ribuan kerikil yang ada di gunung ini mencederaiku. (maaf) kalau sedikit lebay.
Dari sepuluh orang dari total rombongan kami yang ikut melakukan perjalanan ini hanya delapan orang. Sedangkan dua orang lainnya menunggu di tenda kami, mungkin tepatnya bermalas-malasan. Apa perduliku.
Kurasa perjalanan ini tak seberapa berat ketimbang seperti malam kemarin berjalan. Mungkin karena kami yang tak membawa beban selain berat tubuh kami masing-masing. Atau mungkin tubuh ini sudah bisa menyesuaikan dengan alam. Siapa yang tahu.
Pondokan. Tak banyak yang istimewa dari tempat ini. Sama saja seperti Kop-kopan. Hijau. Mungkin menurutku keistimewaannya selain berupa rumah-rumah pondok para penambang belerang, tempat ini dingin. Sangat dingin. Siang yang mengerikan di tempat ini. Membuatku ingin segera berbalik dan turun. Untungnya bukan hanya aku sendiri yang merasa kedinginan di siang bolong ini. Maka kami semua sepakat langsung turun kembali menuju Kop-kopan. Setelah menyempatkan diri berfoto-foto sejenak.
#
Menjelang malam. Dingin kembali mengedarkan kengerian. Membuat ku kembali menggigil dan sibuk meringkuk. Memikirkan kembali penyesalan-penyesalan dalam pendakian ini.
Malam berlanjut. Si jago merah kalah oleh waktu. Dingin kembali berkuasa. Dengan sendirinya kamipun sadar untuk berlindung dari terpaan angin malam. Kembali berdesak-desakan. Kembali membuat benteng pertahanan dan bertarung oleh rasa dingin. Menanti fajar.
Waktu kembali bersahabat. Ketika matahari tampak segar dikulit kami. Kami bersiap. Menghabiskan semua logistic. Dan mempacking semua barang kami. Menuruni bukit yang “mungkin” tak akan kurindukan. Kembali untuk sesibukan masing-masing. Dirumah. Sekolah. Dan cerita-cerita kami.
Aku suka naik gunung.
Selesai.
Terkadang, sesekali kita perlu merasakan menjadi terasing. Mungkin dengan begitu kita bisa melatih otak kita sejalan dengan hati kita.“jalanan”, tahukah siapakah kekasih setianya?
Sebentuk luka yang tergores pada rajutan benang – benang kehidupan, mungkin kita biasa menamainya anjal ataupun gepeng. Anak-anak, muda, paruh baya, ataupun yang tua, baik yang kuat, yang lemah, yang rapuh, ataupun yang kita anggap gila sekalipun. Pria ataupun wanita. Tak banyak yang kita tahu tentang mereka, yang kita tahu mereka hanyalah serupa bunga – bunga usang penghias sudut kota atau jalanan. Dan bahkan lebih buruk lagi.
Bukankah egois dan munafiknya diri ini ketika kita tak lagi mampu mengendalikan pemahaman sejalan dengan hati kita? Kurasa semua dasar dari keegoisan ini hanya sebuah pemikiran – pemikiran lampau dari para pendahulu kita, para leluhur kita. Pemikiran yang menjadi budaya. Budaya yang membodohi. Pembodohan dari sebuah bentuk pemikiran.
Kalau untuk hal ini, mungkin aku perlu mengatakan menyingkirlah!!!
::
Sebatas pemikiranku. Mungkin kita sedang tak sadar, bahwa pendahulu kita telah membodohi kita dengan pemikiran tak logis, sekalipun terlihat logis. Seperti bagaimana kita yang dibodohi oleh pendahulu kita tentang pemahaman – pemahaman “Rahwana merupakan makluk jelek berhati jahat” atau “hanoman bertampang buruk dengan sifatnya yang liar” dan bukan seperti seharusnya yang mengatakan “kotor itu tak selamanya berakhir dengan buruk”, untuk yang satu ini, munkin baru-baru ini saja ada sebuah iklan detergen yang menyesuaikan cara pandang seperti itu.
Apa yang akan terpikir oleh mu ketika seorang lelaki gondrong sangar dengan pakaian acak – acakan sesuai kreatifitasnya, berada didekatmu dengan suara sumbangnya mengamen dalam bus yang kau tumpangi? Apa kau nyaman? Kurasa sama sekali tidak. Kau akan merasakan lain ketika ada seorang sales girl atau sales boy dengan pakaian rapi dan bau wewangian berada didekatmu menawarkan sebuah produk. Sama – sama urusan perut dengan menjual sesuatu, tapi berbeda tingkat kenyamanan. sekalipun kita tahu bahwa kebanyakan sales bisa saja menipu kita dengan kata-katanya. Tapi kita lebih memilih mengeluarkan uang untuk para sales dari pada membeli suara si pengamen, hanya karena penampilan yang membuat mata kita nyaman. Bukan begitu? Bukankah ini bentuk pemikiran kita selama ini?
“Don’t judge book by it’s cover” atau “beauty is only skin deep”
Sudah sering pula kita mendengar kata-kata seperti ini, yang entah dari mana kita mendapatkannya. Seharusnya kata-kata mutiara seperti itu tentunya mempunyai fungsi sebagai pemicu diri kita untuk berfikir secara dewasa. Sesaat mungkin kita tersadar oleh kata-kata tersebut dan berfikir membenarkan, bahwa memang tak sepenuhnya sesuatu hanya bisa dilihat dari cover luarnya saja, tapi entah seiring termakannya waktu tanpa sadar kita masih tetap saja melupakan kata-kata mutiara seperti itu ketika kita dihadapkan dalam pengimplemantasian yang sebenar-benarnya di kehidupan kita ketika bertatap muka dengan seseorang yang berpenampilan menakutkan atupun yang terlihat nyeleneh sekalipun.
Akui saja, dari hal remeh inilah setidaknya kita sering membunuh sebuah karakter seseorang tanpa kita sadari, dimana kita sering menganggap seseorang yang berpenampilan buruk pasti mempunyai sifat yang buruk juga. Padahal banyak dari mereka yang berdasi berambut klemispun bahkan lebih jahat dari penampilan mereka. Tak heran ketika mengapa banyak penjahat sekarang yang merubah penampilan mereka menjadi sopan dan rapi untuk memperdayai kita. Padahal berbuat gilapun menurut saya tak lepas dari sesuatu yang terkadang dapat merubah dunia, seperti apa yang dilakukan para penemu-penemu sains dalam kehidupan seperti Darwin, Aristoteles, atau pemikir ekstrim landasan para kaum komunis Karl marx.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Tuhan tentunya menciptakan indera bukan secara sembarangan.
Kuhisap, kuhembuskan. Indera perasaku tergelitik. Nikmat.
dengan menjamah lentik kata
kutemukan kau dalam seputaran kelembutan
kau menari ,
melahirkan api
pijar yang melesatkanku pada getas mimpi
kasih,
kesendirian adalah sepi yang membawamu jauh
senyap yang lesap di dadaku, seorang lelaki
galau ini tentangmu
seperti pagi-pagi sebelumnya,
menyapamu lewat jejak mentari yang membisikkan kehangatan
: memelukmu
[]
: kusebut baris ini tanpa judul,
seperti sebelumnya atau nanti sesudahnya
karena menatapmu hanya akan menerbitkan mantra-mantra yang kumuntahkan ketika rindu sedang gegas
tentunya tak bernama
seperti hujan yang selalu menjawab musim tanpa harus menamai kesetiaannya dengan bahasa puitik
atau seperti itu pula kata yang di rajahkan para ratib di keningku ketika aku mengingatmu
sedang padamu
setia, sajak dan harap ini tak bernama
[]
Tulus Hajianto

